<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>.:Yogiyatno's Note:.</title>
	<atom:link href="http://yogiyatno.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yogiyatno.wordpress.com</link>
	<description>sekadar catatan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Jan 2011 22:41:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yogiyatno.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>.:Yogiyatno's Note:.</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yogiyatno.wordpress.com/osd.xml" title=".:Yogiyatno&#039;s Note:." />
	<atom:link rel='hub' href='http://yogiyatno.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Memaknai Cinta</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/05/17/memaknai-cinta/</link>
		<comments>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/05/17/memaknai-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2007 22:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wirawan Yogiyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirawax.wordpress.com/2007/05/17/memaknai-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[X dibunuh sendiri oleh pacarnya. Judul semacam itu pernah kita baca di berita kriminal di koran maupun di televisi. Ada unsur paradoks dalam kejadian semacam itu. Dalam kamus orang umum sekarang, pacar mesti berhubungan dengan istilah cinta. Seharusnya cinta mengundang perlakuan yang indah-indah dari orang yang mencintai. Tidak semestinya cinta menghasilkan perbuatan keji terhadap orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=30&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>X dibunuh sendiri oleh pacarnya.<br />
Judul semacam itu pernah kita baca di berita kriminal di koran maupun di televisi. Ada unsur paradoks dalam kejadian semacam itu. Dalam kamus orang umum sekarang, pacar mesti berhubungan dengan istilah cinta. Seharusnya cinta mengundang perlakuan yang indah-indah dari orang yang mencintai. Tidak semestinya cinta menghasilkan perbuatan keji terhadap orang yang dicintai. Ada pergeseran pemahaman akan makna cintakah? Atau memang sudah bukan cinta lagi yang ada pada cerita di atas?<span id="more-30"></span></p>
<p><strong>Unsur Cinta Antarpribadi</strong><br />
Kata cinta sendiri sebenarnya mempunyai makna yang luas, mulai dari cinta kepada keluarga sampai cinta kepada bangsa dan negara, bahkan cinta kepada Allah.<br />
Sekedar membatasi pembicaraan, yang sedang dibicarakan cinta di sini adalah hubungan antarpribadi lawan jenis. Untuk memudahkan menerka makna cinta antarpribadi, ada baiknya kita mengenal unsur cinta antarpribadi ini. Cinta antarpribadi ini mempunyai beberapa unsur, seperti:<br />
Afeksi: penghargaan kepada orang lain<br />
Kedekatan: pemuasan kebutuhan emosional dasar<br />
Altruisme: memperhatikan orang lain dan kebutuhannya daripada diri sendiri<br />
Resiprokasi: tak bertepuk sebelah tangan<br />
Komitmen: gairah untuk menjaga cinta<br />
Keintiman emosional: berbagi emosi dan perasaan<br />
Kekeluargaan: ikatan famili<br />
Syahwat: gairah seksual<br />
Keintiman fisik: berbagi kedekatan daerah-daerah intim pribadi<br />
Kepentingan pribadi: kebutuhan akan penghargaan<br />
Pelayanan: keinginan untuk membantu.<br />
Tentu masih ada banyak teori lain tentang cinta selain sekedar mengemukakan unsur-unsur cinta di atas. Setiap kebudayaan dapat mempunyai pendekatan yang berbeda untuk memaknai cinta. Bahkan dalam satu kebudayaan, mungkin ada beberapa pendekatan untuk memaknai cinta. Pada pokoknya, cinta merupakan konsep yang abstrak, lebih mudah untuk mengalaminya daripada menerangkannya.</p>
<p><strong>Pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah</strong><br />
Dalam Islam, salah seorang ulama, Ibnu Qayyim menerangkan cinta ini dalam bukunya yang terkenal, <em>Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Mustasyqin</em>. Ibnu Qayyim sendiri mendata 50 istilah berkaitan dengan cinta. Katanya, “Karena pengertian manusia tentang istilah cinta ini sangat mendalam dan lebih banyak berkaitan dengan hati mereka, maka tidak heran jika nama-nama lain untuk istilah cinta juga cukup banyak. Ini hal yang amat lumrah dalam sesuatu yang dipahami secara mendalam atau rentan bagi hati manusia.”<br />
Kata teratas yang ditempatkan oleh Ibnu Qayyim sebagai kata yang berhubungan dengan cinta adalah <em>al-Mahabbah</em>. Secara bahasa, kata ini pun sudah mempunyai asal kata yang banyak. Ada yang mengatakan makna asalnya adalah bening dan bersih. Ada yang berpendapat bahwa asalnya berasal dari <em>al-habab</em>, air yang meluap setelah turun hujan lebat. Ada lagi  yang mengartikan sebaliknya: gundah yang tidak tetap. Ada pula yang berpendapat asalnya dari <em>al-habbu</em>, yaitu inti sesuatu.<br />
Dari istilahnya, <em>al-Mahabbah</em> tidak berbeda; mempunyai definisi yang banyak. Sebagian artinya adalah sebagai berikut. Ada yang mengartikannya sebagai kecenderungan terus-menerus dengan hati meluap-luap. Ada yang mengartikan mendahulukan kepentingan orang yang dicintai ketimbang hal lain. Ada yang mengaritkan menuruti keinginan orang dicintai, baik si dia berada di samping atau jauh. Ada yang mengartikan pengabdian.<br />
Ada  yang mengartikan, bahwa makna hakikinya adalah menyerahkan apa pun yang ada pada dirimu kepada orang yang dicintai, sehingga tidak ada lagi yang menyisa. Ada yang berpendapat artinya engkau rela mengerjakan apa pun yang disenangi orang yang kau cintai. Ada yang berpendapat, artinya kecenderungan total kepada orang yang dicintai, kemudian engkau rela mengorbankan diri, nyawa, dan hartamu demi dirinya, kemudian engkau mengikutinya secara sembunyi atau terang-terangan. Ada  yang berpendapat, artinya ialah usahamu untuk membuat sang kekasih menjadi ridha.<br />
Sebagian besar makna <em>al-Mahabbah</em> yang disebutkan Ibnu Qayyim berpusat bagaimana menghaturkan apa  yang kita punyai; kemampuan, harta, nyawa kepada kekasih agar ia ridha, senang, dan keinginannya terpenuhi. Hampir tidak ada makna <em>al-Mahabbah</em> yang berpusat pada memuaskan keinginan pribadi orang yang mencintai kecuali pada satu makna, keinginan agar yang dicintai selalu hadir di sisi orang yang mencintai. Selain satu makna itu, tak ada.</p>
<p><strong>Seharusnya Cinta</strong><br />
Dari ilmu psikologi Barat dan pandangan Ibnu Qayyim di atas, makna cinta terdominasi oleh bagaimana agar yang dicintai ridha, terpuaskan keinginannya oleh orang yang mencintai. Mereka yang mencintai tergerak untuk menghargai kekasihnya, memperhatikannya, dan memenuhi kebutuhannya daripada kebutuhan diri sendiri.<br />
Jika kita mengaku cinta kepada Allah apakah kita sudah menuruti keinginan Allah dan membuat-Nya agar ridha? Jika kita mengaku cinta kepada Rasul-Nya apakah kita sudah rela mengerjakan perintahnya? Jika kita mengaku cinta kepada orang tua apakah kita sudah mengorbankan kemampuan, harta, dan nyawa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka?<br />
Jika kita mencintai seseorang, apakah kita sudah menghargainya, membantunya, mendahulukan kepentingannya, memenuhi kebutuhannya, membahagiakannya, dan membuatnya ridha? Ataukah cinta kita masih bermotif memuaskan keinginan kita, menuntut sesuatu dari orang yang kita cintai?<br />
Cinta yang berjalan pada porosnya tentulah membawa kedamaian dan ketentraman bagi orang yang dicintai. Cinta yang seharusnya tentu membuat yang dicintai merasa dihargai, aman, terpenuhi kebutuhannya, damai, dan tentram.<br />
Memaknai cinta dengan makna seperti ini tentu membuat hidup lebih indah dan mudah. Cinta adalah bagaimana engkau membahagiakan orang yang kau cintai. Dan dengan seperti itulah engkau merasa bahagia. Dengan membahagiakan orang  yang kau cintai-lah engkau merasa bahagia. Cinta adalah bagaimana engkau bahagia saat orang yang kau cintai menjadi bahagia. Dengan melihat orang yang kau cintai berada dalam kebahagiaan, engkau merasa bahagia, dan begitulah engkau mencintainya.<br />
Tentu, sesuatu yang membuat sang pacar menyakiti X (astaghfirullah, sampai membunuh!) bukanlah cinta.<br />
Wallahu a&#8217;lam.(*)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yogiyatno.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yogiyatno.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogiyatno.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogiyatno.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogiyatno.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogiyatno.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogiyatno.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogiyatno.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogiyatno.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogiyatno.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogiyatno.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogiyatno.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogiyatno.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogiyatno.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogiyatno.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogiyatno.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=30&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/05/17/memaknai-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/27e7e3f4717baea337c841990b14bbd5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Wirawan Yogiyatno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Autopackage Rocks!</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/19/autopackage-rocks/</link>
		<comments>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/19/autopackage-rocks/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2007 00:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wirawan Yogiyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[TI]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirawax.wordpress.com/2007/04/19/autopackage-rocks/</guid>
		<description><![CDATA[Urusan install-menginstall program di lingkungan GNU-Linux bisa bikin pusing. Jika dapat binary source codenya, kudu compile sendiri, dan itu bisa membutuhkan 2 atau lebih cangkir kopi untuk menemani kesabaran dan kemauan belajar. RPM mereduksi banyak penderitaan dalam masalah penginstallan ini. Namun, ternyata RPM tidak selalu menyenangkan juga. Ada saja masalah dalam RPM, misalnya, hanya menunjukkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=29&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Urusan install-menginstall program di lingkungan GNU-Linux bisa bikin pusing. Jika dapat binary source codenya, kudu compile sendiri, dan itu bisa membutuhkan 2 atau lebih cangkir kopi untuk menemani kesabaran dan kemauan belajar. RPM mereduksi banyak penderitaan dalam masalah penginstallan ini. Namun, ternyata RPM tidak selalu menyenangkan juga. Ada saja masalah dalam RPM, misalnya, hanya menunjukkan dependency yang kurang lalu tidak otomatis menginstallkan, tidak ada standar penamaan paket dependency di antara distro-distro, interaksi yang buruk dengan kode sumber, dan lain-lainnya.<br />
<a title="Situsnya Autopackage" href="http://autopackage.org" target="_blank">Autopackage</a>, merupakan perangkat lunak yang mencoba menyederhanakan masalah instalasi di lingkungan GNU-Linux ini. Perangkat lunak yang menyediakan paket penginstallan autopackage akan mudah diinstall di distribusi apa saja.<span id="more-29"></span> Autopackage bukannya mengganti RPM. kata pembuat Autopackage, RPM sudah bagus, cuma ia adalah paket non-inti, tergantung dengan distro-distro tertentu. Inilah yang di-coba selesai-kan oleh Autopackage.<br />
Suatu file autopackage (berekstensi *.package) berisi seluruh file yang diperlukan untuk suatu paket software dalam format yang netral dari format-format distro tertentu dengan file-file kontrol khusus di dalamnya, terbungkus menjadi sebuah file tarball. Untuk menginstall suatu perangkat lunak dalam format autopackage, kita tinggal me-run file tersebut. Ia akan mencek sistem Anda, mencari file perangkat autopackage, cek dependency, copy file, dan seterusnya. Bagusnya lagi, suatu paket program autopackage bisa diinstall lewat terminal maupun lewat GUI.<br />
Jika komputer Anda tidak terhubung dengan internet, Anda harus mendownload file perangkat autopackage tersebut dalam satu direktori bersama file .package piranti lunak yang ingin Anda install. File perangkat autopackage sendiri ada dua, yaitu <a title="Core code-nya autopackage" href="http://autopackage.org/downloads/latest/autopackage.tar.bz2" target="_blank">Core code</a>-nya dan file untuk <a title="GUI-nya autopackage" href="http://autopackage.org/downloads/latest/autopackage-gtkfe">GUI</a>-nya.</p>
<p>Langkah-langkah detil untuk menginstall suatu program dengan format paket autopackage adalah sebagai berikut:<br />
1.    Anda download dua file perangkat autopackage di atas.<br />
2.    Anda download program/perangkat lunak yang Anda inginkan. Daftar program yang telah tersedia dalam format autopackage dapat dilihat <a title="Kumpulan software yang tersedia dalam format autopackage" href="http://autopackage.org/downloads.html" target="_blank">di sini</a><br />
3.    Letakkan dua file perangkat autopackage dengan program yang Anda inginkan dalam satu folder.<br />
4.    Masuk lingkungan desktop. Buka file browser (Nautilus atau Konqueror). Buka direktori di mana Anda menyimpan tiga file tadi. Klik kanan package tersebut, pilih Properties.<br />
5.    Klik tab Permissions, beri tanda cek pada Execute, Exec, atau Is Executable. Jika ada beberapa cekboks Execute, maka cek yang paling atas. Klik OK atau Close<br />
6.    Jika Anda sudah punya program yang akan Anda install sebelumnya, maka uninstall dulu program yang lawas.<br />
7.    Klik ganda file package program Anda. Jika muncul kotak dialog untuk memilih Display atau Run, pilihlah Run<br />
8.    Instalasi dimulai sekarang. Ikuti petunjuk yang ada. Tentu, seperti jika Anda menginstall lewat installer versi lain, Anda akan dimintai password root lebih dulu.</p>
<p>Saya menginstall Inkscape dari paket autopackage. Ternyata saya lupa download perangkat autopackage untuk GUI-nya, sehingga proses instalasinya cuman terlihat di terminal.</p>
<p>Walaupun lupa download perangkat GUI autopackage-nya, ternyata tak bermasalah juga (saya tak menyarankan Anda untuk lupa juga). Walhasil, Inkscape-nya terpasang di sistem saya dengan cantiknya.<br />
<a title="Ini dia Inkscape saya dah terinstall" href="http://wirawax.files.wordpress.com/2007/04/post-ap-3-dah.jpg"><br />
</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yogiyatno.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yogiyatno.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogiyatno.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogiyatno.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogiyatno.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogiyatno.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogiyatno.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogiyatno.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogiyatno.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogiyatno.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogiyatno.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogiyatno.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogiyatno.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogiyatno.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogiyatno.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogiyatno.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=29&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/19/autopackage-rocks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/27e7e3f4717baea337c841990b14bbd5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Wirawan Yogiyatno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jika Orang yang Jatuh Cinta Bisa Memilih</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/13/jika-orang-yang-jatuh-cinta-bisa-memilih/</link>
		<comments>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/13/jika-orang-yang-jatuh-cinta-bisa-memilih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 15:17:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wirawan Yogiyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirawax.wordpress.com/2007/04/13/jika-orang-yang-jatuh-cinta-bisa-memilih/</guid>
		<description><![CDATA[Waktu kecil saat liburan, saya sering ke rumah famili di kota sebelah yang terhitung masih kakek nenek saya. Jarak beberapa rumah dari rumah famili saya tersebut, tinggallah seorang tua yang konon juga masih terhitung kakek saya. Kami memanggilnya Eyang Gus. Eyang Gus mempersilakan siapa saja bertandang dan bermain di rumahnya, termasuk anak-anak kecil seperti saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=28&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu kecil saat liburan, saya sering ke rumah famili di kota sebelah yang terhitung masih kakek nenek saya. Jarak beberapa rumah dari rumah famili saya tersebut, tinggallah seorang tua yang konon juga masih terhitung kakek saya. Kami memanggilnya Eyang Gus.<br />
Eyang Gus mempersilakan siapa saja bertandang dan bermain di rumahnya, termasuk anak-anak kecil seperti saya waktu itu. Dia selalu menyediakan minuman dan makanan bagi kami.<br />
Ada yang terasa aneh dengan Eyang dan rumahnya. Rumah itu terlalu sepi. Hanya Eyang saja yang tinggal di rumah itu. Saya tak tahu ada apa dengan hal itu. Walau hati bertanya, saya menikmati di rumahnya yang kuno, berhawa dingin, penuh furniture kuno, dan buku-buku berbahasa Belanda.<span id="more-28"></span><br />
Setelah agak besar, saya mendapat penjelasan dari kakak saya; penjelasan tentang kehidupan Eyang yang sepi di rumah yang dingin itu. Konon, di masa mudanya Eyang pernah jatuh cinta kepada seorang gadis dan menjalin hubungan cinta dengan gadis tersebut. Begitu cintanya Eyang kepada gadis itu hingga dia memutuskan untuk menikahinya. Sayang, niat itu tak kesampaian. Cintanya tak berakhir di pelaminan. Saking cintanya terhadap gadis itu, Eyang tak menjalin hubungan cinta dengan gadis lain lagi. Eyang tak pernah menikah seumur hidupnya.<br />
Saat saya kuliah, sebuah buku menarik tentang cinta diterbitkan. Aslinya, buku ini berjudul <em>Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Mustasyqin</em>, karya seorang ulama, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Judul terjemahnya tak berusaha mengganti judul aslinya, Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.<br />
Ada beberapa ungkapan menarik tentang cinta yang masih saya ingat-ingat dari buku itu. Salah satunya adalah, jika orang yang jatuh cinta bisa memilih maka ia akan memilih untuk tidak jatuh cinta.<br />
Cinta merupakan atribut kehidupan manusia. Pun cinta kepada lawan jenis. Ia adalah fitrah hiasan umat manusia. Seorang yang bernama manusia akan dan pernah jatuh cinta kepada manusia lain. Ini adalah sesuatu yang tak bisa kita tolak.<br />
Lalu mengapa memilih untuk tidak jatuh cinta? Jatuh cinta kok tidak dipilih? Cinta kan indah dan menyenangkan? Awal dari cinta memang merupakan keindahan. Namun pertengahan cinta adalah kegelisahan. Orang yang dimabuk cinta pastilah pernah merasakan penderitaan kegelisahan ini. Gelisah karena menahan beratnya kerinduan. Gelisah akan ketidakpastian apakah orang yang ia cintai benar-benar akan menjadi miliknya. Gelisah ketika orang yang ia cintai ternyata bisa menyakiti.<br />
Seorang penyair bersenandung, <em>“Tak seorang pun di muka bumi yang lebih sengsara dari seorang yang dilanda cinta, meskipun ia mendapati cinta itu manis rasanya. Setiap saat engkau lihat ia selalu menangis, entah karena enggan berpisah atau karena rindu yang membara. Jika sang kekasih jauh, ia menangis karena rindu, jika dekat ia menangis karena takut berpisah.”</em><br />
Bahkan akhir cinta bisa merupakan kehancuran. Konon, tersebutlah kisah cinta seorang pemuda bernama Qais yang tergila-gila terhadap seorang gadis bernama Laila. Akhir nasib Qais begitu mengenaskan. Ia menjadi gila karena cintanya kepada Laila. Cerita Eyang Gus saya adalah episode lain dari akhir tragis sebuah kisah cinta.<br />
Kegelisahan dan kehancuran inilah yang membuat cinta tidak dipilih. Sayang, orang yang jatuh cinta tak bisa memilih untuk tidak jatuh cinta. Cinta datang begitu tiba-tiba. Kedatangan cinta membuang kesadaran jauh ke belakang. Ketika kesadaran itu kembali mendatangi, sadarlah orang yang jatuh cinta bahwa dirinya sudah terjerat cinta. Ada ungkapan, cinta itu bertindak dulu baru berpikir. Betul juga.<br />
Cinta memang tidak bisa ditolak. Datangnya cinta memang begitu tiba-tiba. Datangnya cinta bukanlah sebuah dosa. Abu Muhammad bin Hazm berkata, ada seorang laki-laki berkata kepada Amirul-Mukminin, Umar bin Al-Khaththab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya saya melihat seorang wanita lalu saya sangat cinta kepadanya.” Umar berkata, “Itu adalah sesuatu yang tak mungkin dibendung.”<br />
Kedatangan cinta hanya perlu disikapi dengan bijak. Cinta hanya perlu diatur, dimanajemen. Manajemen cinta kepada lawan jenis yang terbaik adalah dengan menikahi orang yang dicintai. Jika belum mampu, puasa, menahan diri dalam bergaul dengan lawan jenis adalah solusinya.<br />
Saya tak tahu bagaimana hati Eyang Gus menjalani hidupnya. Apakah kegelisahan cinta itu masih ada dalam hatinya, dalam hari-hari kehidupannya. Apakah ada kehancuran yang disembunyikan di balik dinding-dinding rumah yang dingin itu. Saya tak tahu. Saya menghargai kesetiaan orang yang mencintai, namun bagi saya kesetiaan seperti itu tidaklah perlu diwujudkan dengan hidup membujang hingga akhir kehidupan. Jika merajut cinta berumah tangga disikapi sebagai ibadah, tentu kesetiaan cinta tak menghancurkan jiwa.<br />
Eyang Gus telah meninggal. Tak meninggalkan istri apalagi keturunan. Sudah sekitar dua puluh tahun saya tak bertandang ke rumah itu. Terakhir, rumah itu diurusi oleh keluarga famili saya. Rumah dingin itu menjadi saksi kehidupan seorang lelaki dengan kesetiaan mencintai. Rumah itu seakan bercerita, “Aku adalah saksi, bahwa orang yang jatuh cinta tak bisa memilih untuk tidak jatuh cinta.”(*)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yogiyatno.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yogiyatno.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogiyatno.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogiyatno.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogiyatno.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogiyatno.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogiyatno.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogiyatno.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogiyatno.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogiyatno.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogiyatno.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogiyatno.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogiyatno.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogiyatno.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogiyatno.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogiyatno.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=28&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/13/jika-orang-yang-jatuh-cinta-bisa-memilih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/27e7e3f4717baea337c841990b14bbd5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Wirawan Yogiyatno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pakai Linux Karena Ingin Masuk Surga</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/12/pakai-linux-karena-ingin-masuk-surga/</link>
		<comments>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/12/pakai-linux-karena-ingin-masuk-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 23:26:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wirawan Yogiyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[TI]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirawax.wordpress.com/2007/04/12/pakai-linux-karena-ingin-masuk-surga/</guid>
		<description><![CDATA[Mulai bulan ini, majalah InfoLINUX menampilkan pengalaman-pengalaman pribadi pengguna Linux. Selain dapat bingkisan, yang dimuat pun bisa nampang di majalah berkaliber nasional. Ini adalah ide yang baik untuk mempropagandakan penggunaan Free Open Source Software (FOSS) dan juga membantu penegakan UU HAKI di Indonesia. Bicara tentang memakai GNU Linux -selanjutnya saya singkat Linux, jujur saja saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=27&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mulai bulan ini, majalah InfoLINUX menampilkan pengalaman-pengalaman pribadi pengguna Linux. Selain dapat bingkisan, yang dimuat pun bisa nampang di majalah berkaliber nasional. Ini adalah ide yang baik untuk mempropagandakan penggunaan Free Open Source Software (FOSS) dan juga membantu penegakan UU HAKI di Indonesia.<br />
Bicara tentang memakai GNU Linux -selanjutnya saya singkat Linux, jujur saja saya lebih suka memakai Windows. Ini karena dapur rumah saya lebih bisa mengepul dengan piranti lunak yang berjalan di atasnya. Tapi karena hal yang ideologis toh akhirnya saya memakai Linux juga.<span id="more-27"></span></p>
<p>Pertama kali berkenalan dengan Linux adalah saat teman saya membawakan CD RedHat -lupa versi berapa, hampir sepuluh tahun yang lalu. Setelah mendengar kehebatan Linux, akhirnya saya ambil juga CD itu. Bermodal rasa ingin tahu, saya coba install OS baru tersebut. Oh-oh. Sungguh halo effect yang tidak menyenangkan. Saat baru saja berhasil mengumpulkan uang untuk membeli PC yang bisa diinstalli OS ber-GUI, kok harus menginstall dengan mode teks. Akhirnya saya simpan RedHat tersebut dan sampai sekarang tak pernah saya pakai.<br />
Beberapa tahun kemudian saya mendapatkan lagi CD Linux. Kali ini bermerek Mandrake 8.2. Karena iming-iming Linux sudah lebih bagus dari sebelumnya, akhirnya saya install juga distro ini. Wah, agak betul komentar teman saya. Ini mending daripada RedHat saya yang dulu. Ups, tapi XMMS-nya tidak jalan. Tidak terdengar suara apa pun. Xine-nya tidak bisa membaca semua VCD saya. Resolusi 1024&#215;768 pun tak mau. Okelah, sebagai pengenalan Linux, bolehlah saya coba distro ini. Yeah, sekedar belajar mengkustomisasi KDE, Gnome, mengetik dengan Kwrite, dan sedikit bergaya dengan mengetikkan perintah-perintah Linux di terminal.<br />
Suatu saat saya mulai ragu menggunakan OS beserta piranti lunak bajakan di PC saya. Begini ceritanya, tempat kerja saya berlangganan sebuah majalah dakwah. Rubrik fatwa salah satu edisi majalah tersebut pernah mengangkat tentang fatwa haramnya memakai piranti lunak bajakan -semoga saja majalah dakwah itu dibuat tanpa menggunakan piranti lunak bajakan. Dari situ saya mulai pikir-pikir tentang kezaliman yang saya lakukan tersebut.<br />
Saya tak begitu saja mengikuti fatwa tersebut. Isu-isu monopoli kapitalistik, perang pemikiran, hegemoni ilmu dan ekonomi orang kafir, serta pembodohan kaum muslimin menggelayuti benak saya. Tak puas dengan fatwa tersebut, akhirnya saya cari-cari juga sumber-sumber yang lain. Alhamdulillah dapat juga dan jawabannya melegakan hati saya.<br />
Salah satu fatwa yang mantap menjawab masalah tersebut terdapat di situs <a title="Hukum Memakai Software Bajakan" href="http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;article_id=1569&amp;bagian=0" target="_blank">Al-Manhaj.or.id</a></p>
<p>Karena pengelolanya memperbolehkan untuk menyebarluaskan isi artikel ini asal menyebutkan sumbernya, dan juga memang fatwanya diperbolehkan untuk disebarluaskan, maka saya kopi paste fatwa tersebut untuk kenyamanan Anda:</p>
<blockquote><p>ALL RIGHTS RESERVED : BOLEHKAH COPY DAN INSTALL SOFTWARE KOMPUTER TANPA MEMBELI PROGRAM ASLI ?<br />
Oleh<br />
Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta<br />
Pertanyaan.<br />
Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Saya bekerja di bidang komputer, saya biasa mengcopy dan menginstall program untuk dapat dijalankan. Hal itu saya lakukan tanpa membeli CD yang berisi program asli. Perlu diketahui, pada CD tersebut terdapat peringatan yang menyebutkan : &#8216;Hak Cipta Dilindungi&#8217;, yang menyerupai istilah yang tertulis dalam buku : &#8216;All Rights Reserved&#8217; (Semua Hak Cipta Dilindungi). Pemilik program ini bisa seorang muslim dan bisa juga kafir. Pertanyaan saya, apakah boleh mengcopy (atau install) dengan cara seperti ini atau tidak ?<br />
Jawaban<br />
Tidak boleh mengcopy (install) program yang pemegang hak ciptanya melarang, kecuali dengan se-izin mereka. Hal itu didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Artinya : Kaum muslimin itu berpegang pada persyaratan mereka [1]</p>
<p>Juga sabda beliau yang lain.</p>
<p>Artinya : Tidak dihalalkan harta seorang muslimin kecuali yang diberikan dari ketulusan hatinya yang dalam[2]</p>
<p>Demikian juga dengan sabda beliau.</p>
<p>Artinya : Barangsiapa yang lebih dulu pada suatu hal yang mubah, maka dialah yang paling berhak terhadapnya</p>
<p>Baik pemegang hal cipta program itu seorang muslim maupun kafir yang bukan harbi (orang kafir yang tidak boleh diperangi), karena hak orang kafir yang bukan harbi harus juga dihormati, sebagaimana halnya dengan haq orang muslim.</p>
<p>Wabillaahit Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.</p>
<p>_______<br />
Foote Note<br />
[1]. HR Al-Bukhari dalam kitab As-Sunan Al-Kubra  VII/248, Abdurrazzak dalam Mushannaf-nya VIII/377, Al-Hakim II/57 nomor 2309,  Ad-Daraquthni II/606 nomor 2845, Abu Dawud 3594. Dishahihkan oleh Al-Albani  dalam Irwaa&#8217;ul Ghaliil V/142 nomor 1303<br />
[2]. HR Al-Baihaqi dalam kitab  Sunnannya VIII/182, Ahmad V/276, nomor 15488, Ad-Daraquthni II/602 nomor  2849-2850, Abu Ya&#8217;la III/140 nomor 1570. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam  Irwaa&#8217;ul Ghaliil nomor 1459</p>
<p>(Disebarkan dari Al-Manhaj.or.id)</p></blockquote>
<p>Selain itu, ada juga jawaban yang panjang tentang penggunaan software bajakan dari <a title="Hukum Memakai Software Bajakan 2" href="http://syariahonline.com/new_index.php/id/4/cn/2730" target="_blank">Syariah Online</a>. Silakan klik link di atas. Karena ada copyright, saya tak bisa mengkopi paste isi dari link tersebut. Ada juga <a title="Hmm, tidak begitu tegas" href="http://www.eramuslim.com/usm/haj/455d2f8f.htm" target="_blank">jawaban yang menurut saya masih mengandung hal yang meragukan</a>, berkaitan dengan “beberapa kasus tertentu”, “terpaksa”, dan “banyak ulama memberikan keringanan.” (Ah, masa sih? Kasus tertentu macam apa dulu, terpaksa yang bagaimana, dan ulama mana yang memberikan keringanan? Siapa nama ulamanya?)</p>
<p>Karena lebih baik meninggalkan hal yang syubhat dan  mengambil yang tegas, jawaban terakhir yang agak meragukan tersebut tak begitu saya pikirkan. Ambil saja yang dari Lajnah Daa&#8217;imah, sudah cukup bagi saya.<br />
Akhirnya saya pun memakai Linux. Mulai dari Mandrake 10, 2006, dan sekarang 2007 Free.<br />
Begitulah. Saya pindah ke Linux bukan karena sok IT, sok anti-kapitalisme, atau sok anti-Microsoft. Saya migrasi ke Linux karena agama saya mengharamkan memakai barang bajakan. Saya hanya sekedar menaikkan angka probabilitas saya untuk menjadi penghuni surga.<br />
Huff, ternyata konsekuensinya berat juga. Sebelumnya saya adalah pengembang aplikasi multimedia. Piranti yang saya gunakan (biasanya dari Adobe dan Macromedia) tentu saja bajakan, baik di kantor maupun di rumah. Setelah hijrah OS, saya meninggalkan pekerjaan itu -lagian perusahaannya juga bangkrut. Sejak pindah OS, saya mulai bernostalgila dengan PHP. Agar dapur rumah tetap mengepul, saya ambil juga pekerjaan lain asal halal, mampu, dan saya suka.<br />
Ironi yang saya temui adalah <a title="Orang Islam Tukang Mbajak" href="http://fauzansa.wordpress.com/2006/03/06/orang-islam-tukang-mbajak/" target="_blank">masih banyak aktifis muslim yang memakai piranti lunak bajakan</a>. Ketika mereka berteriak untuk menegakkan syariat Islam, dalam hal pemakaian piranti lunak mereka tak menegakkan syariat tersebut. Termasuk teman-teman saya sendiri, dari berbagai label pergerakan, mulai tingkat ustadz sampai simpatisan. Ada saja alasan untuk pembenaran tindakan mereka. Paradoks ini seperti membuat poster demo boikot produk Amerika dengan piranti lunak buatan Amerika.<br />
Posting saya ini bukan berarti mencap masuk neraka orang yang memakai piranti lunak bajakan. Anda masih bisa masuk surga dengan amalan yang lain. Tapi bagi saya pribadi, menaikkan angka kemungkinan masuk surga adalah hal yang penting. Siapa tahu nanti sore saya mati. Dan saya tak ingin menambah siksa di neraka hanya gara-gara hal  yang konyol: memakai software bajakan. (*)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yogiyatno.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yogiyatno.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogiyatno.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogiyatno.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogiyatno.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogiyatno.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogiyatno.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogiyatno.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogiyatno.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogiyatno.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogiyatno.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogiyatno.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogiyatno.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogiyatno.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogiyatno.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogiyatno.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=27&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/12/pakai-linux-karena-ingin-masuk-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/27e7e3f4717baea337c841990b14bbd5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Wirawan Yogiyatno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Positif Negatif di Sekitar Sukses</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/12/positif-negatif-di-sekitar-sukses/</link>
		<comments>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/12/positif-negatif-di-sekitar-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 23:08:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wirawan Yogiyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen diri]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi populer]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirawax.wordpress.com/2007/04/12/positif-negatif-di-sekitar-sukses/</guid>
		<description><![CDATA[Ingin sukses, berhasil? Hampir dapat dipastikan 100% manusia menjawab ya. Sukses dalam meraih prestasi pendidikan, pekerjaan, dan keluarga. Ups, jangan lupa, seorang muslim juga harus sukses di akherat. Meraih sukses memang tidak mudah, tapi semua orang punya kesempatan untuk meraih sukses asalkan mereka mampu membuang belenggu ”racun” sukses, dan memetik madu sukses. Racun sukses adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=26&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ingin sukses, berhasil? Hampir dapat dipastikan 100% manusia menjawab ya. Sukses dalam meraih prestasi pendidikan, pekerjaan, dan keluarga. Ups, jangan lupa, seorang muslim juga harus sukses di akherat.<br />
Meraih sukses memang tidak mudah, tapi semua orang punya kesempatan untuk meraih sukses asalkan mereka mampu membuang belenggu ”racun” sukses, dan memetik madu sukses. <span id="more-26"></span><br />
Racun sukses adalah sikap negatif yang menghambat sukses, sedangkan madu sukses adalah sikap-sikap positif yang menunjang kesuksesan. Apa saja racun dan madu tersebut? Simak pembahasan ringkas, tepat, dan jelas, tentang empat sikap negatif dan sikap positif di sekitar kesuksesan!</p>
<p><strong>Membuang Sikap Negatif</strong><br />
Racun adalah sesuatu yang dihindari. Semua racun memang memiliki sifat merusak, bahkan membunuh. Semua racun digunakan untuk melenyapkan obyek yang menjadi sasaran racun tersebut. Demikian juga dengan ”racun” bagi keberhasilan. Banyak orang mengalami kegagalan karena mereka tidak bisa melepaskan diri dari belenggu ”racun” yang menghambat mereka untuk meraih sukses.</p>
<p><em>Takut Salah</em><br />
Kegagalan bukanlah sesuatu yang parah, yang paling parah adalah tidak mencoba. Biasanya, tidak mencoba berkaitan dengan takut salah. Coba satu kali, salah, dua kali salah, lalu ngambek. Pikirlah, kalau semua pekerjaan dan tugas Anda sikapi seperti ini, mana ada yang selesai. Dalam tugas sekolah, paling-paling kalo takut salah, ujungnya nyontek kerjaan teman  yang pandai. Dan itu berarti membohongi diri sendiri trus juga nggak jujur. Nah, Cuma satu sikap, takut salah, berakibat kepada sikap negatif lain.<br />
Banyak orang yang kemungkinan besar tidak akan berani lagi mencoba ketika melakukan kesalahan untuk yang pertama kali, terlebih lagi ketika kesalahan berulang. Mengapa? Masalahnya, kita menganggap salah itu berarti gagal selamanya. Padahal semua orang pernah berbuat salah. Nabi r saja mengatakan bahwa manusia itu tempatnya lupa dan salah. Olala, jadi salah itu manusiawi, gagal juga manusiawi, karena manusia ditakdirkan memperoleh duka, tidak hanya suka.<br />
Penulis punya teman yang pernah menamatkan permainan komputer dalam semalam. Padahal genre permainannya adalah petualangan  yang pemainnya kudu pintar dialog bahasa Inggris. Dalam semalam, nggak bisa dihitung gagalnya. Tapi, ia terus mencoba. Akhirnya berhasil. Kita-kita yang punya tujuan dan kerja mulia daripada nge-game seharusnya bisa lebih semangat.<br />
Alfa Edison, penemu bola lampu pijar, ternyata berbuat salah banyak sekali sebelum menemukan bola lampu. Tapi, Edison tidak takut salah dan tidak takut gagal. Ketika di-interview oleh seorang wartawan mengenai kesalahan dan kegagalan yang harus dialami, Edison berkomentar, ”Saya tidak gagal, saya hanya menemukan 9.999 cara yang salah untuk membuat bola lampu.”<br />
Apa jadinya jika Thomas Alva Edison tidak meneruskan usahanya ketika pertama kali melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan? Mungkin sekali kita sekarang masih hidup dalam kegelapan.</p>
<p><em>Putus Asa</em><br />
Racun kedua yang pasti berhasil membunuh ”sukses” adalah sikap cepat putus asa. Mungkin, kita sudah tidak takut salah dan takut gagal, dan terus mencoba. Tapi, bisa saja kan, Allah  berkehendak yang lain yang tidak pas dengan keinginan hati kita waktu itu, misalnya: kerjaan kita tetap nggak kelar-kelar.<br />
Kemungkinan yang terjadi adalah kita putus asa. Mau mencoba males. Nggak takut salah lagi, tapi males, dan akhirnya angkat kaki dari tugas-tugas kita.<br />
Perlu diingat, Allah  menekankan dalam banyak ayat bahwa kita tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Rahmat Allah  itu luas. Ambil contoh perjuangan para Rasul dan shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. betapa mereka tidak mengenal putus asa dari rahmat-Nya hingga akhirnya pun Islam tersebar luas dan tertinggikan.<br />
Ini pula yang terjadi para pejuang Indonesia yang notabene adalah muslim. Apa jadinya dengan Indonesia, jika Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, bahkan Jenderal Sudirman serta merta putus asa ketika dipukul mundur oleh Belanda? Apa jadinya jika para pejuang kemerdekaan berhenti berusaha ketika melihat banyak masalah menghadang? Kemungkinan besar, kita masih hidup di bawah belenggu penindasan. Namun, bukan ini yang terjadi pada kita. Para pahlawan, tokoh pejuang, dan seluruh rakyat Indonesia tidak putus asa. Mereka terus berusahan mencari jalan keluar dari tekanan pendudukan asing. Akhirnya, setelah 3,5 abad berjuang, usaha mereka membuahkan hasil gemilang.</p>
<p><em>Emosi Negatif</em><br />
Kegagalan, luka hati, merasa kekurangan, bisa membawa emosi negatif dalam hidup Anda. Sedih dan marah salah duanya. Setiap orang punya perasaan seperti ini. Tapi, apakah kedua perasaan ini akan terus dipelihara?<br />
Merasakan kesedihan adalah manusiawi begitu pula dengan kemarahan. Kita hanya tinggal mengaturnya agar kita bisa sedih atau marah pada kondisi yang tepat, berkaitan dengan peristiwa yang tepat, dan kadar yang sesuai, terhadap person yang pas. Jika berlebihan dan terus dipelihara, sedih bisa membawa kepada kemalasan berusaha sedangkan marah bisa membuat tindakan kita tidak teratur. Ujung-ujungnya pun adalah ketidakberhasilan kita.</p>
<p><em>Kerja Sendiri</em><br />
Bayangkan ketika Anda terdampar di suatu pulau tak berpenghuni. Hanya pasir, air laut, pohon kelapa, serta binatang  yang menemani Anda. Tak ada seorang manusia pun. Mungkin, Anda tetap bisa hidup dengan memakan kelapa dan ikan. Tapi, bagaimana hidup sendirian tanpa teman manusia?<br />
Kebutuhan sosial merupakan sifat alami manusia. Kita perlu mempunyai teman, saudara, dan keluarga. Kebutuhan untuk bekerja sama adalah sifat asli manusia juga. Namun, banyak orang yang mengabaikan sikap ini, dan lebih mengandalkan kemampuannya sendiri untuk meraih yang dicita-citakan. Seringkali, karena terlalu fokus pada diri sendiri, seseorang bisa bersikap egois, tidak hormat pada orang-orang sekitarnya. Akibatnya, orang tersebut tidak mendapat dukungan dari pihak-pihak yang sebenarnya diperlukan untuk meraih sukses. Tenaga, pikiran, kemampuan, waktu yang kita miliki sangatlah terbatas. Jika bekerja sendirian, kita hanya mampu menyelesaikan satu bagian dalam satu hari, maka dengan menggalang kerja sama dengan berbagai orang, dalam satu hari pasti kita bisa melipatgandakan hasil yang bisa diraih. Jadi untuk meraih sukses besar, kita perlu melibatkan orang-orang yang tepat: keluarga, teman, bahkan juga pesaing.</p>
<p>Menghinari keempat racun ini memang tidak menjamin bahwa kita dapat meraih sukses dengan sangat mudah. Paling tidak dengan memahami racun-racun tersebut, kita bisa menghindari terjadinya kegagalan.</p>
<p><strong>Mengambil Sikap Positif</strong><br />
Setelah mengetahui empat racun pembawa kegagalan, langkah selanjutnya mengidentifikasi madu yang dapat kita manfaatkan untuk menopang usaha kita meraih keberhasilan.</p>
<p><em>Cinta</em><br />
Cinta adalah kekuatan tersendiri. Cinta bisa membawa manusia kepada ibadah yang benar dan kuat, namun cinta pula yang dapat membawa manusia terjerumus pada jurang abadinya.<br />
Jika kita mencintai diri sendiri (baca: menerima diri kita sendiri), kita akan lebih positif dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Kita akan berusaha mengembangkan diri kita, memupuk kekuatan kita agar lebih kuat, dan memperbaiki kekurangan kita yang bisa diperbaiki. Di luar itu, kita bisa menerima takdir Allah yang tekah Ia tetapkan pada diri kita.<br />
Jika kita mencintai tugas dan pekerjaan kita, kita tidak merasa terbebani. Artinya, jika kita mencintai apa yang kita kerjakan, kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan pekerjaan tersebut berhasil tanpa merasa terbeban untuk melakukan hal tersebut. Kekuatan Cinta memang sangat dahsyat. Energi yang dihasilkan oleh Cinta juga sangat besar. Jadi, Cinta memberikan kita semangat untuk meraih sukses dari apa pun yang kita kerjakan.<br />
Tanpa cinta, tak ada dakwah yang menerangkan kebenaran sejati di alam ini. Tanpa cinta, tak ada saling membantu di anatara kaum muslimin. Singkatnya, tanpa Cinta, tak ada perkara besar yang berhasil dituntaskan.</p>
<p><em>Harapan</em><br />
Rasa Cinta yang besar, yang ditunjang dengan harapan yang terus hidup, merupakan senjata ampuh meraih sukses. Harapan akan memberikan semangat orang untuk berusaha, entah harapan itu dipompakan orang lain ataupun dicanangkan diri sendiri. Harapan merupakan pelecut semangat untuk mengatasi kesulitan, belajar, dan memperbaiki apa yang telah dicapai.<br />
Jadi, tanpa harapan, tak ada keputusan yang diambil. Tanpa harapan, tak ada semangat yang bisa dipompakan. Tanpa harapan, tak ada tindakan yang akan dilakukan. Tanpa harapan, tidak akan ada perubahan. Tanpa harapan, tak ada mimpi yang bisa diraih.</p>
<p><em>Rencana</em><br />
Cita-cita akan tetap menjadi cita-cita tanpa rencana untuk mewujudkannya. Banyak orang yang gagal karena mereka tidak memetakan rencana aksi untuk meraih tujuan keberhasilan yang telah ditetapkan.<br />
Kegagalan bisa juga terjadi karena waktu yang ditetapkan pada rencana aksi tidak disesuaikan dengan kondisi orang tersebut. Jadi setelah tujuan ditetapkan, kita perlu menyusun rencana strategis untuk meraih tujuan tersebut. Dalam penyusunan rencana, kita perlu memikirkan kemampuan, sumber daya, dan fasilitas yang kita miliki.<br />
Penyusunan rencana juga membantu kita untuk melihat apa yang kita perlukan dan apa yang perlu kita persiapkan untuk mewujudkan tujuan. Dengan demikian, ketika kesempatan melintas, kita bisa cepat mendeteksi dan sudah siap untuk meraihnya.</p>
<p><em>Belajar</em><br />
Banyak orang yang kehidupannya tidak berubah karena mereka tidak mau belajar untuk memperbaiki diri ataupun untuk menemukan hal-hal yang baru. Seorang tukang baso keliling akan tetap menjadi tukang baso keliling, jika ia tidak mau belajar bagaimana merintis membuka restoran untuk menyajikan dagangannya. Banyak orang gagal karena tidak mau belajar dari kegagalan yang dialami, kesalahan yang dilakukan, dan kesulitan yang dialami.</p>
<p>Bagaimana dengan kita? Sudah siapkah kita meraih sukses? Sikap positif mana yang sudah kita terapkan? Sikap positif mana yang masih kudu kita usahakan dalam diri kita? Masihkah kita terbelenggu racun sikap negatif? Manakah sikap negatif yang masih kita pelihara?<br />
Setelah menganalisis ”peta kekuatan” kita, langkah selanjutnya adalah membuang sikap negatif yang masih membelenggu, dan memupuk dan memanfaatkan sikap positif yang bisa memperlancar usaha kita meraih sukses. Selamat mencoba. Semoga sukses! (*)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yogiyatno.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yogiyatno.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogiyatno.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogiyatno.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogiyatno.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogiyatno.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogiyatno.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogiyatno.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogiyatno.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogiyatno.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogiyatno.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogiyatno.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogiyatno.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogiyatno.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogiyatno.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogiyatno.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=26&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/04/12/positif-negatif-di-sekitar-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/27e7e3f4717baea337c841990b14bbd5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Wirawan Yogiyatno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Aisyah ke Perang Jamal, Akhwat Berdemo</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/aisyah-ke-perang-jamal-akhwat-berdemo/</link>
		<comments>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/aisyah-ke-perang-jamal-akhwat-berdemo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 23:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wirawan Yogiyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirawax.wordpress.com/2007/02/02/aisyah-ke-perang-jamal-akhwat-berdemo/</guid>
		<description><![CDATA[Di negeri ini, pada zaman orde baru, demonstrasi belumlah menjamur seperti sekarang ini. Sejak reformasi tegak, setiap ada masalah yang menimbulkan perdebatan pastilah berakibat demonstrasi dan unjuk rasa. Baik masalah itu masalah dalam negeri ataupun masalah luar negeri. Dulu juga, kebanyakan demonstrasi yang memprotes kebijakan-kebijakan dan permasalahan dalam negeri dikomandoi oleh gerakan-gerakan mahasiswa yang kekiri-kirian. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=25&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di negeri ini, pada zaman orde baru, demonstrasi belumlah menjamur seperti sekarang ini. Sejak reformasi tegak, setiap ada masalah yang menimbulkan perdebatan pastilah berakibat demonstrasi dan unjuk rasa. Baik masalah itu masalah dalam negeri ataupun masalah luar negeri.<br />
Dulu juga, kebanyakan demonstrasi yang memprotes kebijakan-kebijakan dan permasalahan dalam negeri dikomandoi oleh gerakan-gerakan mahasiswa yang kekiri-kirian. Selain itu, biasanya pengikut demonstrasi adalah laki-laki.<br />
Itu semua tak berlaku hari ini. Tidak hanya gerakan kekiri-kirian yang pandai berdemonstrasi, gerakan Islam pun sekarang ini menanggapi banyak fenomena dengan berdemonstrasi baik menanggapi masalah luar negeri maupun dalam negeri. Dan sesuatu yang baru saat ini adalah banyaknya muslimah yang berdemonstrasi khususnya di bebarapa gerakan Islam. <span id="more-25"></span></p>
<p>Aisyah radhiyallahu anha ke Bashrah dan perang Jamal<br />
Suatu amal haruslah mempunyai dasar. Begitu juga dengan aksi-aksi demonstrasi muslimah ini. Mereka mendasarkan aksi demonstrasi ini dengan kepergian Aisyah radhiyallahu anha ke perang Jamal.<br />
Imam Ath-Thabary meriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu anha ketika mau pulang ke Makkah didatangi oleh Abdullah bin Ammar al-Hadhrami, amir kota Makkah, seraya berkata kepadanya, “Mengapa engkau ingin pulang, wahai Ummul Mukminin?”<br />
Beliau menjawab, “Saya mau kembali karena Utsman terbunuh secara zhalim sedangkan pemerintah tidak teguh pendirian terhadap kematiannya, yang berarti pemerintah telah menyimpang.” Maka mereka menuntut atas kematian Utsman dalam rangka meninggikan Islam. (Tarikh Rusul wal Muluk, XV, 450)<br />
Imam Ath-Thabary meriwayatkan demikian, bahwa Aisyah radhiyallahu anha tatkala sampai di Bashrah menuntut masyarakat dengan dua perkara, yang pertama menuntut qishash atas terbunuhnya Utsman, yang kedua menuntut tegaknya kitab Allah. (Tarikh Rusul wal Muluk, XV, 464)<br />
Para shahabat bersepakat atas ditegakkannya hukum qishash terhadap para pembunuh Utsman. Perbedaan pendapat mereka hanya soal waktu pelaksanaannya saja. Thalhah, Zubair, dan Aisyah radhiyallahu anha berpendapat untuk menyegerakan qishash atas mereka yang mengepung Utsman sampai beliau terbunuh dan memerangi mereka lebih awal itulebih utama. Sementara pendapat Ali beserta para pengikutnya adalah menangguhkan waktu pelaksanaan qishash sampai kokohnya pemerintahan, lalu ahli waris Utsman mengajukan tuntutan kepada Ali atas orang-orang yang telah ditentukan. Karena orang-orang yang mengepung Utsman tidak berasal dari satu kabilah, tapi dari banyak kabilah.<br />
Begitulah secuplik ilustrasi kepergian Aisyah radhiyallahu anha ke Bashrah dan ke perang Jamal. Namun, bukan kasus perang Jamal, yang akan kita kritisi kali ini. Yang akan kita bahas adalah masalah kepergian Aisyah radhiyallahu anha.</p>
<p>Aisyah radhiyallahu anha dan Kepergian Beliau<br />
Jika para muslimah demonstran tersebut benar-benar meneladani Aisyah radhiyallahu anha r, maka mereka pun juga harus meneladani beliau r dalam hal-hal berikut ini berkaitan kepergian beliau ke perang Jamal.</p>
<p>Ingin Kembali<br />
Qais bin Hazim mengisahkan bahwa tatkala Aisyah radhiyallahu anha berangkat menuju peperangan Jamal dan telah sampai di sebuah mata air milik Bani Amir pada malam hari, tiba-tiba anjing-anjing menggonggong.<br />
Aisyah radhiyallahu anha bertanya, “Mata air siapa ini?”<br />
“Mata air Hauab!” jawab mereka.<br />
Aisyah radhiyallahu anha berkata lagi, “Menurutku aku tidak punya pilihan lain kecuali harus kembali!”<br />
Orang-orang yang menyertainya berkata, “Tidak, engkau harus meneruskan perjalanan agar kaum muslimin dapat melihatmu, mudah-mudahan melalui usaha ini Allah mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru!”<br />
Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Sungguh, pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku, ‘Bagaimana nasib salah seorang dari kalian manakala anjing-anjing di mata air Hau’ab menggonggong kepadanya!’”(Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al Hakim dan Al-Albani)<br />
Jika para muslimah demonstran tersebut meneladani Aisyah radhiyallahu anha r, maka mereka juga harus meneladani Aisyah radhiyallahu anha r dalam memahami perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam r tersebut. Dan tidak lain, Aisyah radhiyallahu anha memahami sabda Nabi tersebut sebagai celaan, sehingga beliau pun ingin kembali.<br />
Terusnya perjalanan beliau juga tidak bisa dijadikan dasar untuk aksi demonstrasi. Karena, beliau meneruskan perjalanan tersebut dengan niat mendamaikan kaum muslimin yang berseteru. Ini tentu berbeda dengan niat aksi demonstrasi kali ini: memprotes kebijakan pemerintah, membuat kecil nyali orang kafir, unjuk gigi kekuatan umat, dan sebagainya.</p>
<p>Menerima Nasihat<br />
Aisyah radhiyallahu anha tidaklah merasa benar dengan keluarnya beliau ke perang Jamal. Salah satu buktinya adalah beliau membenarkan sindiran dan nasihat dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam r yang lain.<br />
Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Jarir Ath-Thabari mencantumkan riwayat bersanad shahih dari Abu Yazid Al-Madini yang berkata bahwa Ammar bin Yasir berkata kepada Aisyah radhiyallahu anha sekembalinya beliau dari Perang Jamal, ‘Betapa jauhnya perjalanan ini dari perjanjian yang telah ditetapkan bagi kalian!’<br />
Ammar bin Yassir mengisyaratkan perjanjian tersebut kepada firman Allah, ‘Dan hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian.” (Al-Ahzab: 33).<br />
Maka Aisyah radhiyallahu anha bertanya, ‘Apakah (yang berkata) itu Abul Yaqzhan (panggilan Ammar bin Yasir)?’<br />
‘Benar!’ jawab Ammar.<br />
Aisyah radhiyallahu anha berkata, ‘Sungguh aku mengenalmu sebagai orang  yang berani menyatakan kebenaran.’<br />
Ammar menanggapi, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan sifat itu bagiku melalui lisanmu.’ (Fathul Bari, XIII/63)<br />
Dalam riwayat lain, Ibnu Abdil Bar meriwayatkan dalam kitab Al-Isti’ab dari Ibnu Abi Atiq, yakni Abdullah bin Muhammad bin Abdirrahman bin Abi Bakr Ash-Shiddiq, ia berkata, “Asiyah berkata kepada Ibnu Umar, ‘Wahai Abu Abdirrahman (panggilan Ibnu Umar), apa yang menghalangimu untuk melarang perjalananku ini?’<br />
Abdullah bin Umar menjawab, ‘Saya melihat seseorang telah mendominasimu!’ Yang beliau maksudkan adalah Abdullah bin Az-Zubair.<br />
Aisyah radhiyallahu anha berkata, ‘Demi Allah, seandainya engkau melarangku niscaya aku tidak akan keluar!’ (Nashbur Rayah (IV/69-70)<br />
Dalam riwayat yang pertama, Aisyah radhiyallahu anha menyebutkan bahwa Ammar bin Yasir adalah seseorang yang berani menyatakan kebenaran, berari apa yang dikatakan Ammar bin Yasir adalah benar, dan itu berlawanan dengan yang dilakukan Aisyah radhiyallahu anha.<br />
Dalam riwayat kedua, Aisyah radhiyallahu anha pun sebenarnya akan menerima nasihat untuk tidak keluar jika Ibnu Umar menasihati beliau. Tapi qadarallah, terjadilah apa yang telah terjadi.</p>
<p>Menyesal<br />
Imam Adz-Dzahabi berkata, “Kemudian dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Aisyah radhiyallahu anha mengurungkan keinginannya agar jenazahnya dimakamkan di kamarnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ismail bin Abi Khalid meriwayatkan dari Qeis, ia bercerita bahwa tatkala Aisyah radhiyallahu anha menyampaikan keinginannya agar jenazahnya dimakamkan di kamarnya, ia berkata, ‘Sesungguhnnya aku telah melakukan satu kesalahan sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Oleh sebab itu, kuburkanlah aku bersama dengan istri-istri beliau yang lain.’”<br />
Maka Aisyah radhiyallahu anha pun dikuburkan di pekuburan Baqi.<br />
Imam Adz-Dzahabi berkata, “Kesalahan yang dimaksud Aisyah radhiyallahu anha adalah keikutsertaannya dalam perang Jamal! Aisyah radhiyallahu anha sangat menyesal dengan penyesalan yang amat dalam dan bertaubat atas kesalahan tersebut. Bahwasanya ia melakukannya karena takwil dan hanya mengharap kebaikan sebagaimana ijtihad Thalhah bin Abdullah, Az-Zubair bin Awwam dan sahabat lainnya.”(As-Siyar (II/193)<br />
Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya Aisyah radhiyallahu anha tidak keluar untuk berperang, melainkan dengan tujuan untuk mendamaikan kaum muslimin. Dia mengira bahwa keluarnya itu akan membawa kemaslahatan bagi kaum muslimin. Namun demikian tampak olehnya setelah itu bahwa seandainya ia tidak keluar, maka hal itu lebih baik. Karena itu, jika ia teringat keluarnya ke (Bashrah) itu ia menangis hingga membasahi kerudungnya.” (Minhajus Sunnah 2:185)</p>
<p>Shahabat Tak Mengikuti<br />
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Maryam Abdullah bin Ziyad Al-Asadi, ia berkata, “Tatkala Thalhah, Az-Zubair, dan Aisyah radhiyallahu anha berangkat menuju Bashrah, Ali bin Abi Thalib mengutus Ammar bin Yasir dan Al-Hasan bin Ali. Kedua utusan itu sampai di Kufah. Keduanya menaiki mimbar, Al-Hasan bin Ali duduk di tangga mimbar yang paling atas sementara Ammar bin Yasir di bawahnya. Lalu kami pun berkumpul, aku mendengar Ammar berkata, ‘Sesungguhnya Aisyah radhiyallahu anha telah berangkat menuju Bashrah! Akan tetapi, Allah telah menguji kalian, apakah kalian taat kepadaNya ataukah kepada Aisyah radhiyallahu anha!’”<br />
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakrah, ia berkata, “Allah telah memberi kebaikan bagiku karena sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni tatkala pecah perang Jamal yang mana hampir saja aku ikut bersama tentara Jamal dan berperang bersama mereka. Ketika sampai berita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa bangsa Persia diperintah puteri Kisra, beliau bersabda,  ‘Tidak akan beruntung satu bangsa yang menyerahkan perkara mereka kepada wanita!’”<br />
Dua riwayat di atas menunjukkan bahwa sebagian sahabat pun memandang tindakan Aisyah radhiyallahu anha bukan sebagai suatu kebenaran yang harus diikuti bahkan merupakan sesuatu yang menyelisihi perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Tentu, apa yang dilakukan oleh ibu kaum  mukminin Aisyah radhiyallahu anha merupakan ijtihad beliau, hanya beliau tidaklah berada di pihak yang benar. Tentu, keutamaan Aisyah radhiyallahu anha tetap tinggi dan sangat tinggi dibandingkan kita pada hari ini. Juga, kedudukan beliau sangatlah tinggi dibandingkan para muslimah demonstran saat ini.<br />
Jadi, keluarnya Aisyah radhiyallahu anha ke perang Jamal bukanlah suatu tindakan yang benar, beliau pun menyadari hal itu sehingga beliau bertaubat darinya. Karena itu, istidlal (pengambilan dalil) para muslimah demonstran terhadap tindakan Aisyah radhiyallahu anha otomatis tidak bisa dibenarkan.<br />
Kalaulah para muslimah demonstran tetap bersikeras bahwa mereka meneladani Aisyah radhiyallahu anha, maka mereka pun harus merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah sebagaimana Aisyah radhiyallahu anha mengetahui bahwa yang beliau lakukan adalah suatu kesalahan. Kemudian, mereka juga harus menerima nasihat untuk tidak keluar ke jalan sebagaimana Aisyah radhiyallahu anha menerima nasihat tersebut dari sahabat yang lain. Juga, mereka harus menangis penuh penyesalan ketika ingat bahwa mereka pernah berdemonstrasi sebagaimana Aisyah radhiyallahu anha menangis penuh rasa sesal ketika teringat keluarnya beliau tersebut. Akhirnya, mereka harus bertaubat sebagaimana Aisyah radhiyallahu anha bertaubat dari kesalahan tersebut dan tidak mengulanginya lagi.</p>
<p>Jalan Kufar<br />
Sesungguhnya, demonstrasi hanyalah metode yang diimpor dari sistem kafiri demokrasi dan kaum komunis. Tidaklah demonstrasi ini bermula dalam sejarah umat Islam kecuali dilakukan oleh kaum sesat Khawarij semasa Utsman bin Affan, di mana kaum ini telah disifati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai anjing penghuni neraka.<br />
Islam menuntunkan cara tersendiri dalam menasihati pemimpin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Barang siapa yang ingin menasehati penguasa, maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan (di muka umum) dan hendaklah ia mengambil tangan penguasa tersebut (dengan empat mata dan tersembunyi). Jika dia mau mendengar (nasehat tersebut) itulah yang dikehendaki, dan jika tidak (mau mendengar) maka penasehat tersebut telah menunaikan kewajiban atasnya.” (Hadits riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, Al-Baihaqi, shahih).<br />
Tidak ada jalan untuk membenarkan aksi demonstrasi, begitu pula (apalagi) demonstrasi yang dilakukan oleh para muslimah(*)<br />
<em>Sumber: Fitnah Kubro, Klarifikasi Sikap serta Analisis Historis dalam Perspektif Ahli Hadits dan Imam Ath-Thabary, Prof. Dr. Muhammad Amhazun, penerjemah Dr. Daud Rasyid, M.A., LP2SI Al-Haramain.</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yogiyatno.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yogiyatno.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogiyatno.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogiyatno.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogiyatno.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogiyatno.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogiyatno.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogiyatno.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogiyatno.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogiyatno.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogiyatno.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogiyatno.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogiyatno.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogiyatno.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogiyatno.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogiyatno.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=25&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/aisyah-ke-perang-jamal-akhwat-berdemo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/27e7e3f4717baea337c841990b14bbd5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Wirawan Yogiyatno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pimpin Diri Sendiri Dulu, Dong!</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/pimpin-diri-sendiri-dulu-dong/</link>
		<comments>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/pimpin-diri-sendiri-dulu-dong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 23:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wirawan Yogiyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen diri]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi populer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirawax.wordpress.com/2007/02/02/pimpin-diri-sendiri-dulu-dong/</guid>
		<description><![CDATA[Mulailah dari diri sendiri! Pesan ini begitu mulia. Sebelum kita repot-repot dengan urusan orang –yang belum tentu orang itu merasa suka kita urus- ya lebih baik kita mengurus diri sendiri dulu. Sebelum kita melihat-lihat kesalahan orang lain, sangat baik kita melihat kesalahan diri kita sendiri dulu. Sebelum kita memperbaiki orang lain, lebih baik kita perbaiki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=24&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mulailah dari diri sendiri! Pesan ini begitu mulia. Sebelum kita repot-repot dengan urusan orang –yang belum tentu orang itu merasa suka kita urus- ya lebih baik kita mengurus diri sendiri dulu. Sebelum kita melihat-lihat kesalahan orang lain, sangat baik kita melihat kesalahan diri kita sendiri dulu. Sebelum kita memperbaiki orang lain, lebih baik kita perbaiki diri kita sendiri dulu. <span id="more-24"></span><br />
Ada hadits lain yang sesuai dikaitkan dengan hadits di atas, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanyai tentang kepemimpinannya.” (Riwayat Muslim). Kaitannya? Sebelum memimpin orang lain, seharusnya kita bisa memimpin diri sendiri dulu.<br />
Kenyataannya, banyak orang yang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa, untuk memimpin orang lain, seseorang terlebih dahulu harus terampil dalam memimpin diri sendiri. Hasil pimpinan orang yang nggak bisa memimpin diri sendiri bisa jadi merupakan masalah ruwet.<br />
Sebenarnya sih, nggak bisa ditolak, entah kita jadi pemimpin orang lain atau tidak, kita pasti telah menjadi pemimpin diri sendiri. Nah, sangat baik, kalau kepemimpinan untuk diri sendiri ini kita sukseskan dulu, agar kualitas hidup kita meningkat.</p>
<p>”Self-awareness”<br />
Paham diri sendiri merupakan dasar untuk memperbaiki kinerja maupuan untuk meningkatkan rasa percaya diri, dan juga meningkatkan pemahaman terhadap orang lain. Jadi, penting bagi seorang pemimpin untuk meluangkan waktunya nggak hanya untuk memahami orang lain, tetapi terlebih dahulu adalah untuk memahami diri sendiri. Apa yang perlu kita pahami dari diri kita sendiri? Misal saja,  apa nilai-nilai yang kita anutnya (misalnya: kejujuran, kerja sama, tanggung jawab), apa kelemahan dan kelebihan diri kita, apa minat kita, apa tujuan kita dalam hidup, apa yang selama ini kita perjuangkan.<br />
Misalnya saja Bill Gates, raja bisnis dari Microsoft. Bill Gates sadar bahwa ia memang mempunyai banyak pengalaman dan minat yang tinggi di sisi teknis, tetapi masih kurang berpengalaman di sisi bisnis. Untuk itu, ia mengangkat orang lain untuk menangani sisi bisnis dari kerajaan bisnisnya, sementara ia tetap berkonsentrasi pada sisi teknologi yang menjadi minat dan keahliannya sejak awal.<br />
Ada berbagai cara yang bisa kita lakukan untuk memahami diri. Salah satu cara adalah melalui umpan balik dari orang lain (teman, sahabat, saudara, keluarga, senior). Namun, kita juga  harus bisa memilah mana masukan yang bisa kita tindak lanjuti, mana yang kita dengar saja. Cara lain, adalah dengan melakukan pengamatan terhadap reaksi orang-orang di sekitar kita (sikap mereka, ucapan mereka, tindakan mereka) dalam berinteraksi dengan kita, karena tindakan orang lain terhadap kita, umumnya merupakan cerminan dari tindakan kita kepada mereka.<br />
Misalnya, jika kita mengasihi, maka orang lain juga cenderung mengasihi kita,  jika kita menghormati pendapat orang lain, keputusan orang lain, maka sebaliknya orang lain juga akan cenderung menghormati pendapat dan keputusan kita.<br />
Salah satu cara untuk memahami diri sendiri adalah melakukan penilaian diri (self-assessment), dengan menjawab secara jujur pertanyaan berikut: Apakah saya memimpin dengan cara yang (jika saya menjadi bawahan) bersedia untuk dipimpin?</p>
<p>”Self-directing”<br />
Seorang pemimpin akan membawa orang yang dipimpinnya berangkat dari satu titik ke titik lainnya, atau dari satu kondisi ke kondisi yang dituju. Demikian pula dengan kepemimpinan diri, kita perlu             menetapkan dengan jelas ke mana kita akan pergi (baca: tujuan hidup kita), sehingga kita bisa memimpin diri kita bergerak menuju tujuan hidup tersebut.<br />
Semakin jelas tujuan hidup yang ingin kita raih, akan menjadi lebih mudah bagi kita untuk memimpin diri meraih tujuan tersebut. Dalam hal ini penetapan visi dan misi pribadi menjadi sangat penting.<br />
Lalu bagaimana menentukan tujuan hidup? Setelah mengenal diri sendiri, tentu kita juga mengenal mimpi yang ingin kita wujudkan. Tanyakan pada diri Anda sendiri: Apa yang ingin saya capai dalam hidup ini? Apa yang menarik minat saya untuk saya perjuangkan dalam hidup ini?<br />
Salah satu contoh adalah Kartini yang memiliki mimpi agar wanita Indonesia juga bisa mengecap pendidikan yang sama dengan yang diberikan oleh mitra mereka, kaum pria. Mimpi inilah yang menjadi titik tolak dari semua keputusan, kegiatan, dan tindakan yang diambil Kartini dalam memimpin orang-orang di sekitarnya untuk bersama-sama mewujudkan mimpi tersebut.</p>
<p>”Self-managing”<br />
Setelah kita mengetahui dengan jelas apa yang ingin kita capai, langkah selanjutnya adalah mengelola diri kita untuk mencapai tujuan tersebut.<br />
Pengelolaan diri ini juga mempunyai langkah-langkah. Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah menyusun tindakan-tindakan yang akan kita lakukan dalam skala prioritas: dari yang paling penting sampai yang kurang penting. Karena keterbatasan waktu, sarana, prasarana, kita tidak bisa melakukan semua yang ingin kita lakukan sekaligus. Kita perlu menentukan tindakan ataupun keputusan yang menjadi prioritas kita pada saat ini, dan mana yang akan dikerjakan kemudian. Tentunya selain menyusun rencana tindakan berdasarkan prioritas, langkah selanjutnya adalah dengan memperhitungkan waktu pelaksanaannya.<br />
Ada sebuah konsep menarik dari seorang ahli manajemen, yaitu konsep penting (yang dapat menunjang pencapaian tujuan hidup kita) dan genting (yang menuntut perhatian segera) dalam pengelolaan waktu. Banyak orang yang terperangkap hanya pada pelaksanaan tindakan yang genting saja (walaupun seringkali tidak penting), misalnya: seorang staf pemasaran sedang melakukan presentasi di depan calon pembeli tiba-tiba telepon genggamnya berdering, banyak orang cenderung menghentikan presentasi untuk mengangkat telepon (yang mungkin saja dari rekan sekerja yang menanyakan akan makan siang di mana hari itu).<br />
Hal yang perlu dilatih adalah mengelola kegiatan yang penting, tanpa menunggu kegiatan tersebut menjadi genting, karena biasanya dalam kondisi genting, kita banyak melakukan kesalahan yang sebenarnya bisa kita hindari. If you fail to plan, you plan to fail (Jika kita gagal membuat rencana, kita telah membuat rencana untuk gagal), begitu kata orang bijak. Jadi, yang perlu kita lakukan agar tidak terperangkap dalam suasana genting (namun seringkali tidak penting), adalah dengan membuat perencanaan terlebih dahulu sebelum melakukan suatu tindakan.</p>
<p>”Self-accomplishment”<br />
Setelah prioritas disusun dan jangka waktu penyelesaiannya diatur dengan baik, langkah selanjutnya adalah melaksanakan yang sudah direncanakan tersebut. Untuk itu kita perlu mengidentifikasi sarana, prasarana yang sudah ada dan yang perlu ditambah; keterampilan yang sudah kita kuasai yang dapat menunjang penyelesaian tindakan dan keterampilan yang masih harus kita pelajari untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan adanya tujuan yang jelas, prioritas yang sudah disusun, serta rencana yang matang (dengan berbagai skenario kemungkinan), kita akan lebih siap untuk meraih cita-cita kita. Sekalipun ada hambatan yang harus kita hadapi, kita tidak khawatir lagi, karena berbagai hambatan tersebut sudah diantisipasi sebelumnya, dan kita pun sudah menyiapkan Rencana B (seandainya Skenario A gagal diwujudkan).<br />
Dalam mencapai sebuah cita-cita, kita perlu keyakinan dan komitmen yang tinggi. Dengan keyakinan diri yang tinggi untuk sukses, akan lebih mudah bagi kita untuk meyakinkan orang lain untuk berjuang juga. Dengan komitmen yang tinggi, kita tidak rentan terhadap godaan, hambatan, dan masalah, dan orang lain juga akan lebih percaya kepada kita sebagai pemimpin dengan melihat dedikasi kita pada tercapainya tujuan.<br />
Keyakinan yang teguh, serta komitmen yang tinggi perlu ditunjang dengan upaya pengembangan diri yang berkelanjutan. Tanpa meng-update diri terhadap perkembangan yang terjadi, terutama di seputar bidang yang kita perjuangkan, kita akan terlibas oleh perubahan yang mengikuti perkembangan tersebut.</p>
<p>Itu tadi cara-cara untuk mewujudkan kepemimpinan kita terhadap diri kita sendiri. Kita hanya perlu melakukan beberapa hal.<br />
Pertama, pahami diri untuk mengenal dengan baik nilai yang kita anut, keunggulan yang perlu dipertahankan ataupun ditingkatkan, dan kelemahan yang perlu diperbaiki. Kita juga perlu memiliki visi dan misi pribadi agar kita tahu ke arah mana kita harus memimpin diri sendiri.<br />
Selanjutnya adalah mengelola diri, terutama dalam menentukan prioritas dan memperhitungkan aspek waktu. Yang terakhir adalah memiliki keyakinan dan komitmen tinggi untuk meraih sukses yang telah dicita-citakan serta selalu mengembangkan kemampuan kita untuk meraih apa yang kita cita-citakan.<br />
Ingat, kita semua pasti pernah dan akan berperan sebagai pemimpin: di tempat kerja, di keluarga, di masyarakat. Namun, sebelum memimpin orang lain, kita perlu memiliki kemampuan untuk memimpin diri sendiri.  Pastikan bahwa Anda pun bisa memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Semoga Anda selalu dalam kesuksesan!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yogiyatno.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yogiyatno.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogiyatno.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogiyatno.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogiyatno.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogiyatno.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogiyatno.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogiyatno.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogiyatno.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogiyatno.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogiyatno.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogiyatno.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogiyatno.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogiyatno.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogiyatno.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogiyatno.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=24&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/pimpin-diri-sendiri-dulu-dong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/27e7e3f4717baea337c841990b14bbd5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Wirawan Yogiyatno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendengarkan Efektif</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/mendengarkan-efektif/</link>
		<comments>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/mendengarkan-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 23:29:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wirawan Yogiyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen diri]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi populer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirawax.wordpress.com/2007/02/02/mendengarkan-efektif/</guid>
		<description><![CDATA[Percaya, nggak, 75% dari seluruh waktu kita digunakan untuk berkomunikasi? Ayo, coba lacak kembali aktivitas Anda hari ini! Menyapa teman Anda, menjawab guru Anda, mendengar penjelasan guru Anda, meminjam buku pada teman Anda, bilang terima kasih pada penjaga kantin, dan sebagainya. Nah, hampir seluruh hari Anda terisi dengan komunikasi, kan? Komunikasi merupakan suatu proses dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=23&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Percaya, nggak, 75% dari seluruh waktu kita digunakan untuk berkomunikasi? Ayo, coba lacak kembali aktivitas Anda hari ini! Menyapa teman Anda, menjawab guru Anda, mendengar penjelasan guru Anda, meminjam buku pada teman Anda, bilang terima kasih pada penjaga kantin, dan sebagainya. Nah, hampir seluruh hari Anda terisi dengan komunikasi, kan? <span id="more-23"></span><br />
Komunikasi merupakan suatu proses dalam mengirim dan menerima informasi. Jika komunikasi yang kita lakukan berjalan dengan baik, maka orang lain akan mengerti apa yang kita inginkan, bicarakan, atau bahkan mereka akan mengerjakan apa yang kita instruksikan. Selain itu kita pun dapat mengetahui informasi apa yang ingin mereka sampaikan, apa yang mereka butuhkan, dan sebagainya.<br />
Masalahnya adalah untuk melakukan komunikasi yang baik kita seringkali mengalami hambatan, salah satunya adalah ketika kita menjadi pendengar dalam proses komunikasi. Banyak persoalan dan kesalahpahaman yang timbul dalam komunikasi yang disebabkan karena kita kurang berkonsentrasi pada saat mendengarkan seseorang berbicara.<br />
Padahal, kita sebagai orang muda lebih perlu mendengar lho daripada bicara. Bagaimana enggak? Masa, kita, orang muda zaman sekarang ini, sudah punya ilmu bejibun? Nggak lah ya. Di tengah derasnya arus dunia dan materialisme kayak sekarang ini, sedikit banget orang muda yang udah punya banyak ilmu. So, kita lebih harus nuntut ilmu daripada nuntut untuk bicara. Dus, salah satu cara menuntut ilmu adalah dengan banyak mendengar hal-hal yang bermanfaat.<br />
Pada tahun 1980-an suatu tim penelitian dari Loyola University mengadakan suatu riset yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan keterampilan seorang manajer dalam komunikasi bisnis. Satu kesimpulan yang dihasilkan adalah bahwa seorang manajer harus dapat mengenali dan memecahkan persoalan yang ada pada para karyawannya. Untuk itu seorang manajer harus bisa menjadi pendengar yang baik.<br />
Sayangnya, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian manajer belum menjadi pendengar yang baik. Hal tersebut terlihat dari beberapa komentar karyawan:<br />
&#8220;Atasan saya selalu mendominasi pembicaraan sehingga saya tidak dapat memberikan saran untuk mengatasi persoalan di Bagian Produksi.&#8221;<br />
&#8220;Atasan saya selalu memotong pembicaraan.&#8221;<br />
&#8220;Saya tidak mengerti apakah manajer saya mengerti apa yang sedang kami diskusikan.&#8221;<br />
&#8220;Berbicara dengan atasan? Hanya membuang waktu saja!&#8221;<br />
Kita (mungkin) emang bukan karyawan. Tapi, hal di atas bisa dijadikan contoh, bahwa menjadi pendengar yang baik itu ternyata perlu ketrampilan. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita sudah menjadi pendengar yang baik?</p>
<p><strong>Hasil Mendengar Efektif</strong><br />
Menjadi pendengar yang baik bukanlah usaha yang mudah. Seseorang harus dapat bersikap obyektif dan dapat memahami pesan yang disampaikan oleh lawan berkomunikasinya. Mendengarkan dengan efektif membutuhkan konsentrasi, pengalaman, dan keterampilan.<br />
Manfaat dari menjadi pendengar yang baik di antaranya:<br />
Lawan berbicara kita akan lebih mudah dalam menyampaikan informasi.<br />
Hubungan antar individu akan semakin baik.<br />
Mendorong pembicara untuk tetap berkomunikasi.<br />
Informasi dalam bentuk instruksi, umpan balik dan lainnya akan lebih jelas diterima.<br />
Tentu, hasilnya Anda akan lebih dapat menangkap ilmu yang Anda pelajari. Kalo ilmu itu ilmu agama tentu manfaatnya besar banget. Anda jadi lebih paham dan terhindar dari salah paham, mengamalkannya pun jadi lebih benar. Kalo pun ilmu itu adalah yang Anda pelajari di sekolah tentu menjadi pendengar yang baik juga bermanfaat gede. Anda tak sekedar hafal, namun juga mengerti. Tentu, kalo pas ulangan atau ujian, Anda juga akan lebih pede dan  mampu mengerjakan soal.</p>
<p><strong>Bagaimana Caranya?</strong><br />
Menjadi pendengar yang baik membutuhkan usaha dan latihan yang teratur. Langkah terpenting pertama yang harus kita lakukan adalah menyadari bahwa mendengarkan seseorang berbicara adalah suatu kebutuhan yang sama pentingnya dengan keterampilan berkomunikasi yang lain seperti: berbicara, menulis dan membaca.<br />
Berikut ini beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai panduan pada saat kita mendengarkan seseorang berbicara. Silakan simak!</p>
<p>Perlu diingat bahwa kita tidak dapat mendengarkan dan berbicara pada saat bersamaan. Hal ini merupakan prinsip dasar dari mendengarkan efektif. Seseorang cenderung untuk selalu menambahkan pendapatnya pada saat ia berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini menjadi persoalan jika lawan bicara kita belum selesai berbicara. Ia bisa saja merasa terganggu. Dari pihak pendengar jelas konsentrasi akan terpecah. Secara sopan santun, menambah pendapat orang yang sedang berbicara berarti memotong pembicaraan. Dan ini tentu tidak sopan. Biarkanlah pembicara menyelesaikan keperluannya, sedangkan kita mendengar dengan baik. Baru, kalo dia selesai berbicara, sampaikanlah pendapat kita.</p>
<p><em>Mencoba memahami pokok pikiran atau ide utama pembicara</em>. Seorang pendengar yang baik selalu mencoba untuk memahami intisari dari suatu pesan. Jangan mendengar secara masuk telinga kanan keluar telinga kiri atau sebaliknya. Dari pembicaraan yang panjang lebar, tentu terdapat pokok pikirannya. Peganglah pokok pikiran itu, niscaya Anda tahu maksud pembicara. Hal ini mungkin sulit dilakukan pertama kali. Karena itu, kita memang perlu latihan berkonsentasi mendengarkan orang  yang berbicara tanpa melakukan hal lain yang mengganggu konsentrasi kita.</p>
<p><em>Hindari gangguan dari lingkungan sekitar</em>. Ini dia, hubungannya dengan yang tadi/ Pendengar yang baik selalu mencoba untuk memfokuskan diri pada pembicara. Mencoba mendengarkan pendapat teman ketika rapat sebagai contoh, tanpa terpengaruh oleh sinyal SMS, dering telepon, orang yang berlalu lalang, dan sebagainya. Oleh karena itu untuk pembicaraan yang serius, faktor lingkungan perlu diperhatikan.</p>
<p><em>Mencoba untuk mengendalikan emosi</em>. Pendengar yang baik selalu mencoba untuk mengesampingkan emosi, sehingga ia dapat menerima pembicaraan dengan jernih. Pendengar yang baik juga selalu mencoba untuk memahami pembicara tanpa membuat penilaian pribadi atas pembicara. Memang kadang ada kata-kata yang keliru dari pembicara yang perlu diluruskan. Namun pelurusannya pun harus dengan ilmu. Nasehat hendaknya disampaikan setelah pembicara rampung berkata-kata. Itu pun disampaikan secara empat mata tidak di depan audiens yang lain.</p>
<p><em>Membuat catatan jelas dan singkat</em>. Buatlah catatan kecil tanpa mengurangi konsentrasi kita pada saat mendengarkan. Harap diingat kita tidak dapat mengerjakan dua tugas sekaligus tanpa mengurangi keefektifan salah satu di antaranya. Oke, jadi ini harus dilakukan dengan ekstra konsentrasi. Mungkin Anda bisa melatih menulis cepat, dan juga catatan itu tidak perlu dengan tulisan tangan yang indah, bisa jadi berupa singkatan-singkatan, diagram-diagram yang Anda saja yang dapat membacanya.  Nggak masalah, yang penting Anda dapat memahaminya. Boleh juga disalin kembali jadi catatan yang lebih baik.</p>
<p><em>Mencoba untuk bersikap empati</em>. Mencoba untuk menghargai posisi pembicara, sehingga kita terhindar dari mendengar apa yang hanya mau kita dengar saja. Tempatkan diri Anda sebagai diri pembicara. Ketika Anda ngomong, tentu Anda juga ingin pendengar mendengarkan omongan Anda dengan seksama. Nah, ini juga yang diinginkan pembicara yang sedang berbicara di depan Anda.</p>
<p><em>Memperhatikan komunikasi non verbal</em>. Tataplah lawan bicara, dan perhatikan bahasa tubuh mereka. Seringkali terjadi pemahaman akan suatu informasi lebih bisa kita pahami dengan memperhatikan raut muka dan gerak tubuh lawan bicara. Dan sebagai pendengar, kita pun harus memperhatikan bahasa tubuh yang kita tampilkan, seperti posisi duduk, raut muka, anggukan kepala dan sebagainya.</p>
<p><em>Mendengarkan dengan selektif</em>. Seringkali dalam suatu pembicaraan, pembicara memberikan informasi-informasi yang penting. Kadang informasi tersebut tersembunyi di dalam konteks pembicaraan. Kita diharapkan dapat memilah-milah informasi tersebut untuk mendapatkan yang kita butuhkan.</p>
<p><em>Bertanya pada tempatnya</em>. Tunda dahulu pertanyaan dan gagasan yang ingin disampaikan sampai pembicara selesai. Ajukan pertanyaan untuk memperjelas maksud pembicara. Ini hampir sama dengan point yang pertama. Jika ada pertanyaan sampaikanlah jika si pembicara sudah selesai. Bisa jadi, masalah yang Anda tidak paham akan diterangkan seketika itu juga tanpa Anda menanyakannya. Karena itu, sabarlah. Boleh jadi, tanpa bertanya pun apa yang Anda bingungkan akan diterangkan kemudian.</p>
<p><em>Buatlah kesimpulan atas apa yang menjadi inti pembicaraan</em>. Dengan mencoba menangkap intisari pembicaraan diharapkan kita dapat memahami permasalahan dengan kata kita sendiri. Cobalah ramu kembali apa yang pembicara sampaikan dengan kata-kata Anda sendiri. Ini akan melatih Anda untuk mengambil kesimpulan dengan baik.</p>
<p><em>Memberikan umpan balik</em>. Memberikan umpan balik kepada pembicara sehingga ia mengetahui sejauh mana kita sudah memahami pembicaraan. Ini dia saatnya bertanya, berpendapat atau berkomentar. Setelah pembicara selesai mengutarakan pembicaraannya, barulah tiba giliran kita. Jangan diam saja, sampaikan sepatah dua patah kalimat agar pembicara tahu sejauh mana kita paham.</p>
<p>Itu dia rambu-rambu bagi Anda untuk menjadi pendengar yang baik. Anda bisa langsung melatih dan mempraktikannya. Ketika guru menerangkan pelajaran di kelas, cobalah kiat-kiat di atas diterapkan. Begitu pula saat Anda harus berada di depan ustadz untuk menuntut ilmu mendengarkan kajian. Semoga dengan tips dan trik di atas, Anda dijadikan paham oleh Allah. (*)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yogiyatno.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yogiyatno.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogiyatno.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogiyatno.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogiyatno.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogiyatno.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogiyatno.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogiyatno.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogiyatno.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogiyatno.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogiyatno.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogiyatno.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogiyatno.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogiyatno.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogiyatno.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogiyatno.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=23&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/mendengarkan-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/27e7e3f4717baea337c841990b14bbd5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Wirawan Yogiyatno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memunculkan Ide Hebat</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/memunculkan-ide-hebat/</link>
		<comments>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/memunculkan-ide-hebat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 23:27:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wirawan Yogiyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen diri]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi populer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirawax.wordpress.com/2007/02/02/memunculkan-ide-hebat/</guid>
		<description><![CDATA[Ide besar yang bermanfaat memang hebat! Mungkin kita pernah lihat teman atau senior kita yang punya ide seperti itu. Bagaimana dengan kita? Susah nggak sih memunculkan gagasan-gagasan kreatif yang hebat? Memang kita nggak pernah diajari bagaimana memunculkan ide-ide, karena itu kita merasakan pekerjaan ini sebagai pekerjaan berat. Kebanyakan kita berpikir bahwa kemampuan menumbuhkan gagasan itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=22&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ide besar yang bermanfaat memang hebat! Mungkin kita pernah lihat teman atau senior kita yang punya ide seperti itu. Bagaimana dengan kita? Susah nggak sih memunculkan gagasan-gagasan kreatif yang hebat?<br />
Memang kita nggak pernah diajari bagaimana memunculkan ide-ide, karena itu kita merasakan pekerjaan ini sebagai pekerjaan berat. Kebanyakan kita berpikir bahwa kemampuan menumbuhkan gagasan itu karena adanya bakat sejak lahir, bukan karena belajar. Dan anggapan itu kita biarkan saja. <span id="more-22"></span><br />
Ada juga orang yang berpendapat bahwa gagasan-gagasan muncul begitu saja dalam pikiran manusia. Mungkin saja pendapat tersebut betul, tetapi kita tidak dapat mengandalkan faktor kebetulan saja.<br />
Hal-hal di atas merupakan penghalang yang kita ciptakan bagi diri kita sendiri dan kita biarkan begitu saja sehingga penghalang-penghalang tersebut merintangi kebenaran, yaitu bahwa kita sebetulnya dapat memunculkan ide-ide besar.<br />
Pada dasarnya, jika kita diberi bakat untuk memahami proses dan teknik memunculkan ide akan lebih mudah bagi kita untuk benar-benar memunculkannya. Kita harus tanamkan dalam diri kita bagaimana cara untuk dapat memunculkan gagasan-gagasan baru dan hebat sewaktu-waktu kita memerlukannya. Proses untuk menumbuhkan gagasan-gagasan baru bersifat aktif bukan reaktif. Nah, di bawah ini ada cara-cara yang bisa membantu Anda melahirkan ide-ide segar. Ikuti saja!</p>
<p><strong>Memahami Persoalan</strong><br />
Pertanyaan dasar yang harus dapat kita jawab adalah: ”Mengapa kita perlu memunculkan gagasan-gagasan baru yang hebat?” Jawabannya pastilah untuk memenuhi kebutuhan kita dalam memecahkan persoalan. Kebutuhan adalah induk penemuan, sedangkan kesulitan yang sering kita temui adalah sering kali tanpa sadar kita mengejar permasalahan yang salah dan berputar-putar sendiri. Sebetulnya yang kita perlukan adalah pemahaman yang sangat jernih mengenai apa yang menjadi masalah sesungguhnya.</p>
<p><em>Rumuskan situasi sekarang dan tujuan yang ingin dicapai</em><br />
Hal yang sangat penting sebelum kita mulai menyelesaikan suatu masalah adalah kita perlu memahami dengan jelas di mana posisi kita saat itu. Setelah itu, kita baru membuat garis besar permasalahan yang sedang kita hadapi seperti: latar belakang masalah, kebutuhan organisasi, sumber-sumber lain yang tersedia dan tidak tersedia. Kemudian kembangkanlah konsep/garis besar tersebut, dengan tujuan untuk lebih memahami permasalahan.<br />
Setelah jelas, tetapkanlah sasaran yang ingin dicapai dan pastikan bahwa sasaran tersebut dapat diukur. Misalnya kita diharuskan untuk dapat memecahkan permasalahan yang timbul dalam bidang rekruitmen. Yang diharapkan dari kita adalah menarik siswa baru masuk ke sie kegiatan kita, dengan persentase sebesar 10% dari tahun sebelumnya.</p>
<p><em>Kenali celah-celah dan inti masalahnya</em><br />
Setelah langkah di atas, maka kita dapat mengidentifikasi celah-celah antara kondisi saat ini dan kondisi yang diharapkan. Selanjutnya buatlah daftar bagian-bagian yang ada dan persoalan yang mungkin akan timbul, kemudian tanyakan kepada masing-masing apakah ada masalah atau tidak. Kemudian analisislah  hasilnya.</p>
<p><em>Lakukan penelitian dan analisis SWOT</em><br />
Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, bisa dilakukan dengan membaca kasus-kasus yang serupa atau melakukan tanya jawab kepada orang-orang yang bersangkutan. Cara lain adalah dengan melakukan analisis strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (kesempatan) and threats (ancaman), atau lebih dikenal dengan analisis SWOT</p>
<p><strong>Membangun Kreativitas Sendiri</strong><br />
Setiap orang memiliki kreativitas dalam dirinya. Sejumlah orang yang tidak menganggap dirinya kreatif, dapat terkejut sendiri melihat betapa dirinya kreatif ketika kesempatan yang tepat datang di depan            mata. Ada banyak cara untuk menempatkan diri agar kesempatan itu muncul.</p>
<p><em>Amati sesuatu yang dikenal</em><br />
Amatilah sesuatu itu selama kurang lebih 10 menit, dan gambarkan kembali apa yang kita ingat. Tujuannya adalah untuk melatih dan mempertajam ingatan kita. Sebenarnya nggak hanya penglihatan saja. Semua indera dapat membantu kita dalam membangun kreativitas, karena baik indera penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan maupun peraba memperoleh berbagai masukan sepanjang hari. Membangun kreativitas berarti mempertajam pikiran, dan itu berarti meningkatkan kepekaan penginderaan kita.</p>
<p><em>Jangan menunda pekerjaan sampai dengan menjelang batas waktu</em><br />
Salah satu hal yang menakjubkan adalah bahwa kita dapat memerintahkan otak untuk bekerja secara autopilot. Apabila kita memberinya gagasan-gagasan dasar dan sejumlah rangsangan yang cocok, akhirnya otak akan memunculkan gagasan-gagasan yang dapat diteruskan. Namun ada kecenderungan, apabila dihadapkan pada persoalan, kita akan menunda sampai menit terakhir, dengan alasan bahwa otak akan bekerja lebih baik kalau terdesak. Itu memang ada benarnya, karena ketegangan batas waktu mampu mempersatukan pikiran dengan baik. Tetapi kita tidak memberikan kesempatan yang cukup kepada otak untuk menghasilkan pekerjaan yang optimal. Jika kita mengerjakan jauh hari sebelum batas waktu tidak berarti kita harus segera merampungkan, tetapi sekedar memberi masukan yang lebih baik kepada diri sendiri untuk menyadari dimensi-dimensi lain dari keadaan yang kita hadapi.</p>
<p><em>Ambillah sudut pandang orang lain</em><br />
Artinya kita mencoba untuk menempatkan diri kita pada posisi orang lain, dengan tujuan untuk mengetahui reaksi seseorang atas tindakan yang kita ambil. Misalnya, ”Reaksi apa yang saya harapkan dari orang ini atas gagasan tersebut?” Kemudian telitilah apa yang diperlukan agar orang tersebut dapat memberikan reaksi yang kita inginkan. Bayangkanlah diri kita menduduki jabatannya dan amati gagasan tersebut. Camkanlah reaksi yang timbul dari diri kita dan berbuat sesuai dengan itu.</p>
<p><strong>Memunculkan Ide-ide dalam Kelompok</strong><br />
Mengumpulkan orang bersama-sama untuk mencari ide-ide merupakan cara yang efektif, apabila ditangani dengan semestinya. Tapi pertemuan itu dapat juga menjadi penghamburan waktu bagi para peserta apabila tidak ditangani secara benar. Di bawah ini ada tips agar pemunculan ide secara kelompok dapat berjalan secara efektif.</p>
<p><em>Melaksanakan curah-gagasan</em><br />
Curah-gagasan atau brainstorming memudahkan kita untuk mendapatkan banyak gagasan dengan cepat. Proses ini berlandaskan anggapan bahwa sekelompok orang yang bekerja bersama di bawah pimpinan yang baik, dapat memunculkan jauh lebih banyak ide dan kemungkinan daripada bekerja masing-masing. Keuntungan cara ini adalah berkurangnya hambatan di dalam kelompok dibandingkan dengan pertemuan yang lebih formal.</p>
<p><em>Membuat bahan penjelasan</em><br />
Sebelum pertemuan brainstorming, beberapa hari sebelumnya para peserta harus mendapatkan bahan penjelasan, yang berisi informasi, antara lain: kapan pertemuan akan dilangsungkan, pokok pembicaraan, hasil akhir yang diminta, dan sebagainya.</p>
<p><em>Menggunakan pemandu dan rencana agar tetap pada jalur</em><br />
Tujuan adanya pemandu adalah untuk mengarahkan dan mengendalikan pertemuan, juga untuk membantu para peserta mengembangkan gagasan-gagasan mereka. Tentunya, pemandu tersebut harus yang sudah berpengalaman.  Dengan adanya rencana yang jelas, maka pemandu dapat mempersiapkan dengan baik, sehingga ia dapat mengetahui banyaknya waktu yang tersedia dan mampu membagi waktu dan akhirnya semuanya bisa berjalan lancar.</p>
<p><em>Tinggalkan tanggapan negatif</em><br />
Jangan membiarkan pikiran-pikiran negatif muncul dipermukaan karena akan menjadi penghalang. Juga jangan membiarkan peserta yang satu menginjak atau membunuh gagasan orang lain, karena hanya akan merusak suasana dan menimbulkan permusuhan. Seseorang yang telah diperlakukan seperti itu, akan mundur dan tidak akan bersuara lagi, sehingga kehadirannya jadi tidak berarti, atau yang lebih buruk,            akan menjadi agresif dan mencari peluang untuk balas dendam.</p>
<p><em>Doronglah agar semua ikut berperan serta</em><br />
Dalam acara brainstorming, adalah penting untuk menjaga agar setiap peserta ikut berperan, bukan hanya menjadi pengamat. Penjagaan ini merupakan tugas pemandu. Jika ada peserta yang hanya berdiam diri, maka ia harus didorong untuk memberikan sumbangan. Jika ada peserta yang terlalu aktif, maka ia harus pula dikendalikan agar tidak sampai memaksakan ego atau pendapatnya. Pemandu harus tetap dapat mengendalikan sidang.</p>
<p><em>Belajarlah untuk mendengarkan</em><br />
Terkadang sulit bagi kita untuk menjadi pendengar yang baik, bisa dikarenakan orang tersebut memang menyebalkan atau hal yang diceritakan kurang menarik. Selain alasan-alasan itu, sebenarnya             mendengarkan adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan secara aktif. Keuntungan dari mendengar ialah perhatian kita akan lebih terarah ke masalah yang sedang dihadapi dan kita akan mendapatkan lebih banyak informasi.</p>
<p><em>Ringkaskan, musyawarahkan dan bagilah tugas</em><br />
Usahakanlah untuk menyelesaikan satu masalah hanya dalam satu kali pertemuan saja, tidak efektif untuk melanjutkan atau memulai lagi pada hari-hari berikutnya karena mungkin akan timbul masalah-masalah sampingan. Jika selama pertemuan, bahan-bahan bermutu yang diperlukan telah terkumpul, tujuan/sasaran telah tercapai maka buatlah suatu ringkasan akhir, dapatkan kata mufakat dari semua peserta dan lakukan pembagian tugas secara merata.</p>
<p>Itu tadi tiga cara untuk menimbulkan gagasan hebat, pertama, Anda perlu memahami persoalan, kedua, Anda perlu belajar membangun kreativitasmu sendiri, dan ketiga, Anda perlu mencurahkan pikiranmu bersama teman-teman yang lain. Nah, silakan memunculkan ide-ide hebat Anda. (*)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yogiyatno.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yogiyatno.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogiyatno.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogiyatno.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogiyatno.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogiyatno.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogiyatno.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogiyatno.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogiyatno.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogiyatno.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogiyatno.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogiyatno.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogiyatno.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogiyatno.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogiyatno.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogiyatno.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=22&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogiyatno.wordpress.com/2007/02/02/memunculkan-ide-hebat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/27e7e3f4717baea337c841990b14bbd5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Wirawan Yogiyatno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka Sudah MPd; Soal Bahasa Lain Lagi</title>
		<link>http://yogiyatno.wordpress.com/2006/12/04/mereka-sudah-mpd-soal-bahasa-lain-lagi/</link>
		<comments>http://yogiyatno.wordpress.com/2006/12/04/mereka-sudah-mpd-soal-bahasa-lain-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Dec 2006 19:23:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wirawan Yogiyatno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wirawax.wordpress.com/2006/12/04/mereka-sudah-mpd-soal-bahasa-lain-lagi/</guid>
		<description><![CDATA[Kuliah yang sedang saya ikuti bernama Program Pengembangan Kemampuan Mengajar. Ada dosen yang sudah profesor, emiritus lagi, pengarang buku, namun lupa memperkenalkan namanya. Selebihnya doktor. Selebihnya lagi MPd. Beberapa mereka yang MPd ini kedapuk juga bikin diktat. Bayangan saya, &#8220;Hebat, dah MPd, dah pernah bikin thesis. Tentu mereka dah lebih paham tentang bahasa Indonesia yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=20&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kuliah yang sedang saya ikuti bernama Program Pengembangan Kemampuan Mengajar. Ada dosen yang sudah profesor, emiritus lagi, pengarang buku, namun lupa memperkenalkan namanya. Selebihnya doktor. Selebihnya lagi MPd. Beberapa mereka yang MPd ini kedapuk juga bikin diktat.<br />
Bayangan saya, &#8220;Hebat, dah MPd, dah pernah bikin thesis. Tentu mereka dah lebih paham tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar.&#8221;<br />
Kenyataannya jauh panggang daripada api.<span id="more-20"></span><br />
Seorang ibu dosen yang MPd mengajar di kelas. Saya salut pada beliau yang begitu ramah dan hangat mendekati peserta didiknya. Begitu lihat transparansi beliau lain lagi perasaan saya. Sekian persen elektrolit yang ada pada cairan tubuh saya paksa-anggarkan sebagai modal memahami beberapa kalimat beliau yang sangat tidak efektif. Oh, beberapa kata yang seharusnya kata benda kok jadi kata sifat? Lha, kalimat yang itu, subjeknya mana?<br />
Suatu ketika, Joan, teman saya yang dari jurusan bahasa Indonesia itu, saya ajak ngobrol fenomena ini. Wah, ternyata catatan dia tentang parahnya para dosen yang MPd dalam hal berbahasa Indonesia yang baik dan benar malah lebih banyak.<br />
Belakangan, Wiwit, teman saya yang dari Kearsipan, uring-uringan tentang buku Pengantar Ilmu Pendidikan. Waktu saya lihat, buku ini memang parah. Mereka yang sudah bosan dengan bla-bla-bla teori tentu akan jengah membuka buku ini, apalagi jika mendapatkan kenyataan bahwa buku ini tidak ditulis dengan bahasa yang baik dan benar. Prasangka saya, sebagian isi buku ini adalah terjemahan dari buku teks berbahasa asing. Dan, yang menerjemahkan tidak begitu mampu membahasakan ulang dengan bahasa negara kita secara baik dan benar.<br />
Hampir akhir semester ini, dosen mata kuliah Perencanaan Pengajaran mengemukakan sebuah buku untuk buku teks mata kuliah beliau. Hm, beliau mendapatkan cetakan lama buku tersebut; dari perpustakaan, kusam, dan tak menarik. Ternyata, buku ini (masih) dijual di toko buku dengan tampilan baru yang fresh. Penulisnya adalah seorang profesor kelahiran 1936 M. Akhirnya saya beli satu gara-gara ada tugas kelompok yang bikin pusing. Setelah saya buka-buka, oh, no, saya ketemu lagi dengan banyak kalimat tidak efektif. Betapa banyak subjek yang didahului kata depan! Ah, tampilannya saja yang fresh, isinya sama seperti yang dipinjam dosen saya: benar-benar cetakan lama dan tak menarik, gerutu saya.  Maunya mengkritisi teori yang diberikan dalam buku itu, eh, ternyata saya mengkritisi editingnya lebih dulu, paling tidak untuk bab 5.<br />
Penulisnya sudah profesor; soal bahasa lain lagi.<br />
Oh, ya, Anik, buku yang itu ada di toko buku. Tapi saya tidak membelinya karena anggaran belanja buku saya memang baru untuk buku yang lain. Dan, saya merasa aneh menyalin isi suatu buku di sebuah toko buku. Btw, saya tidak begitu tahu apakah buku itu juga bermasalah dalam hal pemakaian bahasa negara kita secara baik dan benar. Penulisnya juga seorang profesor.<br />
Anak saya pernah &#8216;ditebak&#8217; akan jadi profesor -sebenarnya terserah dia nanti mau jadi apa. Hanya saja, kalau jadi profesor, semoga dia bisa menulis dengan bahasa yang baik dan benar; dengan bahasa apa pun yang akan ia kuasai.</p>
<p>&#8230;berhubung ini hanya blog, bisa jadi bahasanya pun tidak baik dan benar.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yogiyatno.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yogiyatno.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yogiyatno.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yogiyatno.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yogiyatno.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yogiyatno.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yogiyatno.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yogiyatno.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yogiyatno.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yogiyatno.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yogiyatno.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yogiyatno.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yogiyatno.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yogiyatno.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yogiyatno.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yogiyatno.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yogiyatno.wordpress.com&amp;blog=6055946&amp;post=20&amp;subd=yogiyatno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yogiyatno.wordpress.com/2006/12/04/mereka-sudah-mpd-soal-bahasa-lain-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/27e7e3f4717baea337c841990b14bbd5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Wirawan Yogiyatno</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
